Nabi

Pesawat masih mengudara. Di balik jendela awan-awan putih masih tampak. Pengumuman mengabarkan bahwa pesawat tak lama lagi akan mendarat, penumpang diminta untuk bersiap mengikuti aturan-aturan formalitas. Tiba-tiba seorang ibu di sebelah saya berbicara, mengajak ngobrol. Ia bicara macam-macam, saya pun membalas tak kalah macam-macam. Kami terlibat dalam diskusi ringan dalam latar pesawat yang tak lama lagi akan sampai di tujuan.

Si ibu sebelah saya itu hendak menuju Malang, menjumpai anaknya yang sedang sakit. Anaknya ialah seorang laki-laki yang sedang belajar psikologi di sebuah universitas di Malang. Atas nama tanggung jawab seorang ibu, ia terbang jauh dari tempat tinggalnya di Kupang demi menjenguk si anak. Bukan, ibu ini bukan asli Kupang, ia perantau. Ia asli Surabaya, lantas takdir membawanya menuju Timor.

Bagi mereka yang supel, berbincang dengan orang asing adalah hal yang biasa, kadang dianggap tak penting, kadang hanya sebatas formalitas omong kosong. Maka saya merasa beruntung menjadi orang yang terlalu gampang akrab, menjadi orang yang tak cukup supel. Biasa saya lebih sering diam di hadapan orang asing, hingga si orang asing itu yang mengajak bicara pertama kali. Saya hampir tak pernah mengambil inisiatif.

Atas dasar itu saya selalu percaya tiap orang asing yang mengajak ngobrol saya adalah kiriman Tuhan, entah untuk pesan apa. Dalam tiap obrolan singkat dengan mereka yang asing itu, saya menikmatinya dengan penuh, persis seperti murid yang menanti ajaran. Saya menunggu momentum yang tepat kapan pesan ajaib itu tiba dalam obrolan dengan ibu asal Kupang yang asli Surabaya ini. Dan demikianlah takdir pun berkata-kata.

Ia bertanya hendak menuju manakah saya, lantas saya jawab: Jakarta. Ia pun bertutur pelan dan tenang bahwa suatu waktu di masa lalu ia sempat pula tinggal dan hidup di Jakarta, mencari uang, mencari pengalaman, mencari entah apa. Lalu akhirnya kata-kata ajaib itu muncul, kata-kata yang tak sekali dua kali saya dengar, kata-kata yang mungkin saya  tunggu-tunggu: “saya gak kerasan di Jakarta”.

Dalam sepersekian detik imajinasi membawa saya mencapai waktu-waktu yang lampau, dalam momen-momen yang serupa tapi tak sama, juga dalam perjalanan, hanya dengan orang asing yang lain. Saya ingat supir taksi di Lombok yang mengantar saya ke Pelabuhan Lembar, saya ingat seorang porter di Pelabuhan Tulehu Ambon saat saya dan kawan hendak menyebrang ke Pulau Pombo, juga orang-orang asing lain yang mungkin saya lupakan.

Bagi saya mereka semua, ibu itu, supir taksi itu, porter itu, dan mereka-mereka yang terlupakan itu, adalah nabi. Ia yang diutus Tuhan tadi, yang datang dengan pesan khusus untuk saya. Pesannya singkat, padat, dan jelas bagi saya: Jakarta bukan tempatmu, nak. Saya memang orang yang percaya pada tanda-tanda, persetan bagaimana kita menginterpretasi tanda-tanda itu.

Rasanya hampir tiap kali melakukan perjalanan saya selalu dipertemukan dengan orang-orang semacam ibu yang hendak menuju Malang itu. Orang-orang yang bercerita pernah tinggal dan hidup di Jakarta, lantas mengaku tidak betah, tidak kerasan, ingin pulang kampung atau menuju tempat lain untuk tinggal dan hidup. Sudah saya bilang, tidak sekali atau dua kali. Maka salahkah saya mempercayainya sebagai pertanda?

Terlebih saat ini saya mencapai tingkat akhir di bangku kuliah, waktunya mungkin sudah dekat bagi saya untuk menepati perintah Tuhan atas nama nabi-nabi tadi, atas perkataan orang-orang asing itu. Mungkin saya perlu sedikit bersiap menyongsong hari itu: menyelesaikan skripsi, meminta ijin ibunda, berkemas dengan sedikit lebih lama dari biasa, dan mencapai kota lain yang membuat saya tidak menjadi budak di ibukota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s