Rumah dan Kerinduan

Bagi saya perasaan paling mewah yang bisa dimiliki seorang pejalan adalah kerinduan pada rumah. Tempat yang kata seorang bijak merupakan tempat hati berada. Dan rasanya memang saya meninggalkan hati saya di rumah setiap kali melangkah keluar darinya dan berjalan gontai melihat pelosok bumi yang lain.

Sore ini, tatkala hujan turun di sebuah bagian kecil di Kota Kupang, rindu itu tumpah tanpa teradang apa-apa bagai banjir badang. Ada semacam kerlap kerlip cahaya yang pucat dan rapuh membayangkan rumah. Saat rasa itu menempel di kepala dan kulit, yang tersisa tinggal asa untuk segera mengemas barang dan mencapai kediaman.

Perihal rindu semacam itu, atau yang mungkin kita lebih akrabi dengan istilah homesick, saya rasa entah sudah berapa kali datang menghajar saya. Setiap melanglang keluar rumah rasanya hampir selalu merasakan perasaan semacam itu. Minimal sekali. Dan kadang bertubi-tubi datangnya bagai hujan batu. Perih.

Saya sendiri bingung mengapa saya, dan tentu banyak orang lain yang gemar melakukan perjalanan, merasa patah hati saat rindu rumah. Semacam kondisi yang bernuansa kontradiktif mengingat kecintaan pada langit asing sejatinya tak kalah besar dengan kecintaan akan rumah.

Tapi demikianlah adanya. Mungkin selama ini perjalananlah yang membuat cinta pada rumah semakin besar. Begitu pula, rumahlah yang membuat cinta pada perjalanan pun membesar. Rumah, perjalanan, serta rindu pada keduanya mungkin adalah kerumitan yang tak terselami. Lagi pula memang tak perlu dijelaskan. Rasakan saja.

Kupang, 16 Februari 2013 – di sore yang gerimis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s