Buku-buku Berserakan

Buku bagi saya adalah kawan lama yang saya lupa keberadaannya. Dibiasakan membaca sejak kecil oleh ayah, beranjak remaja saya mulai tertarik godaan televisi. Buku saya tinggalkan, terlebih lagi saat internet merajalela. Buku-buku berserakan di ruang yang kosong dan lindap. Tapi semenjak masuk ke jenjang pendidikan pasca-sekolah, saya perlahan mulai tertarik lagi pada buku. Ironisnya saat sang pembiasa telah pergi.

Maka membacalah saya. Memang bukan tipikal pembaca yang rajin dan passionate betul. Saya tahu persis saya pembaca yang lama dan payah. Satu buku bisa saya habiskan berbulan-bulan. Tapi tak apa, minimal saya merasa sudah terbiasa. Jika anda tanya saya sedang baca buku apa saat ini, maka selalu ada jawaban. Meski kadang buku itu terakhir dibaca berminggu-minggu lalu. Tak masalah.

Hari-hari belakangan ini buku seakan kian akrab. Meja belajar saya dijejali berbagai macam rupa buku dengan berbagai kepentingan untuk membacanya. Ada yang untuk rekreasi, juga demi skripsi. Kita tahu hidup perlu keseimbangan. Maka ketika anda membaca-baca untuk tujuan yang serius, sisipkanlah bacaan-bacaan yang menghibur. Untuk itu saya terbiasa menyiapkan buku kumpulan puisi kala hendak membaca secara serius.

Puisi bagi saya adalah pelarian tatkala ruang-ruang bahasa dan imaji mulai dikurung logika. Pada saat itulah puisi datang sebagai lentera yang membawa saya keluar sejenak, menghirup udara segar dan melihat keindahan. Setelah itu masuk lagi dalam kegilaan logika dan pengetahuan. Lalu rekreasi lagi lewat puisi. Demikianlah hingga selain mengecap pengetahuan logis yang baru, saya pun menikmati estetika.

Namun kini di meja saya tak ada buku puisi, semua sudah habis terbaca dan sudah sering dibaca ulang. Hiburan kali ini bukan puisi, melainkan karya klasik Jack London, The Call of The Wild dan White Fang. Juga serial novel Balada Si Roy dan The Naked Traveler yang sayangnya juga berhubungan soal tanggung jawab menjadi mahasiswa tingkat akhir. Sisanya adalah bacaan yang serius.

Tentang buku, belakangan saya mengingat “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” karya GM. Saya belum membacanya. Tapi seperti sebuah lagu usang yang kadang muncul lagi di telinga, demikianlah judul buku itu belakangan terngiang di kepala. Hingga saya merasa perlu mencarinya lagi dan membacanya. Mungkin akan asik sebagai bacaan selama perjalanan nanti. Gara-garanya adalah tanda.

Di ruang maya, saya rasa Tuhan sedang memberi tanda pada saya saat dua teman membawa-bawa judul buku tersebut dalam ocehannya. Maka saya ingat lagi tentang buku itu. Dan rasanya kini perlu serius mencarinya entah dimana. Mungkin di tengah kesesakan obligasi ini, dan dalam ruang-ruang kontemplasi kelak, buku tersebut akan menyimpan jawab tentang mengapa ia terngiang di kepala saya.

Lalu apalagi soal buku? Entahlah, yang jelas saat menulis ini dibelakang saya sedang tergeletak tumpukan buku-buku serius yang saya sebut tadi, kebanyakan tentang budaya populer dan budaya massa. Saya bosan mereka. Mereka juga bosan saya. Maka tulisan ini sejatinya hanyalah pelarian, seperti puisi-puisi, atas kemuakan dan kebosanan itu. Buku-buku tadi berserakan, demikian pula pikiran saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s