Kecemasan

Semester tujuh ini berakhir dengan cara yang gila: tiga takehome dalam satu malam di hari natal. Hebatnya tiga ujian akhir itu adalah untuk tiga mata kuliah yang diambil semester ini. Dari tiga minggu masa uas, kenapa tuhan hanya memberi saya satu hari untuk mengumpulkan seluruh ujian di semester ini? Mungkin itu semacam hadiah natal atau pengingat yang tegas untuk (semoga) semester ganjil terakhir.

Lalu apa setelah semester tuntas? Liburan, lalu menyelesaikan karya terakhir sebagai mahasiswa: skripsi. Dan karena libur adalah ritual yang dihiasi dengan sesuatu oleh masing-masing orang, termasuk saya, maka saya sedang memikirkannya. Hanya memikirkan, tidak menyiapkan. Apalagi kalau bukan sebuah perjalanan. Kemananya adalah rahasia, karena saya penganut paham Hemingway: sebuah keinginan sebaiknya tidak diucapkan.

Tapi dalam membayangkan rencana perjalanan ini, tak seperti biasanya, saya merasa cemas. Kecemasan ini lahir dari putusan yang lahir dari kemalasan untuk susah-susah mengatur anggaran dan menetapkan jadwal. Sedari dulu saya memang paling malas jalan-jalan dengan jadwal dan anggaran yang kaku, tapi paling tidak saya punya bayangan berapa hari dan berapa duit yang dibutuhkan. Kali ini tidak sama sekali.

Bukan jarak atau lelah tubuh yang saya khawatirkan. Bukan pula soal duit, karena meski tabungan saya pastinya akan kering, saya tahu saya punya ibu yang baik. Bukan pula soal waktu, karena saya kaya tentang itu. Mungkin karena itulah ilmu manajemen penting. Baik secara praktis maupun akademis. Kita tahu jurusan itu termasuk yang laku dalam industri perburuhan masa kini.

Rupanya sejak lahir kita dipaksa belajar tentang cara mengatur ini dan itu. Hingga itu akhirnya mengakar menjadi kebiasaan yang tak bisa ditolak. Ketika ingin keluar sejenak dari kebiasaan yang mengikat itu, maka perasaan berontak. Kita tahu hidup adalah kumpulan ketidakpastian, maka kita meminimalisirnya dengan mengaturnya. Namun menyoal perjalanan, ia harusnya dirayakan dengan rupa-rupa ketidakpastian.

Ketidakpastianlah yang membuat hidup dan perjalanan mengandung makna. Jadi ketika tulisan ini semakin lama semakin tidak jelas ingin bicara apa, itulah yang disebut ketidakpastian. Terlebih lagi saat saya bingung bagaimana mengakhiri tulisan ini dengan apa, itulah seni hidup. Kebingungan, kecemasan, ketidakpastian adalah estetika. Mari berjalan dalam malam gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s