Amish

Kemarin saya menonton salah satu program acara National Geographic Adventure berjudul Amish: Out of Order. Saya tak tahu banyak tentang Amish, tapi sepengetahuan saya Amish adalah kelompok subkultur yang memiliki cara hidup yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka menjalankan pola hidup sederhana dan seadanya serta menolak menggunakan teknologi modern. Semoga tepat.

Dari episode yang saya tonton itu, acara tersebut menampilkan orang-orang yang telah meninggalkan komunitas Amish dan seorang perempuan muda yang justru ingin menjadi seorang Amish. Singkat cerita, si perempuan muda ingin belajar dari eks Amish tentang cara-cara hidup orang Amish. Namun, eks Amish sebenarnya mengalami pergulatan dalam dirinya karena latar belakangnya yang merupakan mantan Amish.

Si eks Amish keluar dari komunitas eksentrik itu karena berbagai hal, salah satunya kekakuan komunitas itu dan cara hidup yang sulit yang harus menolak bentuk-bentuk modernitas. Ia bingung ketika diminta menolong seseorang yang justru ingin menjadi bagian dari Amish. Di satu sisi ia merasa harus membantu mengenalkan Amish, di sisi lain ia berharap dengan mengenalkan cara hidup Amish si perempuan muda mengurungkan niatnya.

Saya tak sempat mengikuti episode selanjutnya, entah apakah si perempuan muda benar-benar menjadi Amish. Tapi dari cerita di episode itu sepertinya niatan si perempuan muda itu sudah bulat untuk menjadi Amish. Perkenalan dan pembelajarannya tentang budaya Amish justru menguatkan niatnya. Ia ingin keluar dari kehidupannya selama ini dan menjalani kehidupan yang berbeda sebagai Amish.

Tentu menarik melihat seorang dari masyarakat modern ingin keluar dari modernitas itu dan menuju kehidupannya yang jauh berbeda. Si perempuan muda mengaku ingin menjalani hidup yang lebih sederhana, apa adanya, berdandan tanpa riasan dan memakai baju polos yang sama dengan orang-orang Amish lain. Salah satu kesulitannya adalah ia harus meninggalkan keluarganya sepenuhnya agar bisa menjadi Amish.

Menonton acara tersebut tiba-tiba saya ingat dulu saat pulang dari Baduy saya sempat ingin menjadi orang Baduy. Dalam tataran yang mungkin tak sama persis, Amish mirip dengan Baduy. Subkultur yang hidup dengan cara yang jauh berbeda dari masyarakat modern. Saya dulu sempat ingin tinggal di komunitas Baduy mengingat kesederhanaan dan ketenangan hidup yang mereka tunjukkan. Tapi toh cita-cita itu menguap.

Saya tak tahu persis apakah hasrat itu masih ada atau tidak. Tapi melihat si perempuan muda yang ingin jadi Amish itu saya seperti melihat diri sendiri. Seorang yang kecewa, mungkin muak, dengan kehidupan modern yang gila ini, yang ingin keluar dari hidup semacam itu menuju hidup yang lebih simpel, lebih tenang dan damai. Meski batal, setidaknya saya pernah memiliki keinginan gila itu.

Di akhir episode itu, si eks Amish yang menolong memperkenalkan budaya Amish itu akhirnya merasa pasrah jika toh nantinya si perempuan muda benar-benar menjadi Amish yang ditinggalkannya itu. Ia mengatakan sepotong kalimat yang rasanya perlu diingat, yang kira-kira berbunyi: tak peduli Amish atau bukan, yang terpenting adalah bagaimana kita memperoleh kebahagiaan dalam hidup, bisa dengan menjadi Amish atau keluar darinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s