Padang Pasir

Salah satu esai Albert Camus berjudul Minotaur atau Perhentian di Oran dimulai dengan membicarakan soal padang pasir. Kalau tidak salah ia menggagas padang pasir sebagai ruang untuk merenungi kehidupan, untuk mengambil sedikit jarak pada kehidupan untuk bisa mengerti kehidupan itu. Padang pasir identik dengan musafir, identik pula dengan kontemplasi yang memang seringkali tercuat dalam sebuah perjalanan melintasinya.

Lalu mengapa harus menuju padang pasir hanya untuk merenungi sejumput hal tentang hidup? Jelas, karena kota dan suasana urban adalah tempat yang sesak lagipula bising untuk dapat berkontemplasi. Kota beserta rutinitasnya tak menyediakan ruang sedikit saja bagi perenungan. Maka untuk mencari pengertian akan apa yang dicari dalam hidup ini, tak sedikit orang yang pergi melakukan perjalanan, menuju “padang pasir” dan mendapati nilai-nilai kehidupan.

Tapi padang pasir tak melulu dimaknai secara denotatif. Ia bisa pula diresapi sebagai konotasi untuk merujuk pada “gua meditasi” tadi. Camus pun memberi contoh pada diri seorang Rene Descartes yang menemukan padang pasirnya dalam wujud kota Amsterdam yang sibuk, riuh, dan mungkin pula sudah sesak kala itu. Dalam ketidaktenangan sebuah kota, sang pemikir rupanya mendapatkan ruang merenung itu.

Memang ada dua suasana terbaik untuk merenung, berpikir, atau berkontemplasi. Pertama, dalam situasi yang sangat hening, sepi, hingga bunyi udara dapat terdengar. Kedua, justru dalam kondisi yang paling ramai, paling bising, berisik, dan gaduh. Karena dalam kebisingan yang total, kesepian justru menemukan tempatnya. Maka keheningan dan kegaduhan sempurna sama saja. Mereka bisa jadi padang pasir bagi masing-masing orang.

Saya sendiri belum tahu pasti dimana padang pasir saya berada. Saya menduga ia tak berada di satu lokasi, satu titik, satu tempat, atau satu kota, melainkan di sepanjang garis perjalanan. Padang pasir saya tak punya nama resmi, ia hanyalah kumpulan titik-titik yang dihubungkan oleh sesuatu bernama petualangan. Tapi saya tak tahu pasti benar tidaknya. Maka rasanya saya perlu mengepak tas dan membuktikannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s