Bara yang Menyulut Ingatan

Kita tahu kontroversi adalah semacam pita warna-warni yang menyemarakkan sepakbola hari ini. Termasuk kontroversi soal keputusan wasit yang keliru dan merugikan salah satu tim. Apalagi jika tim yang diuntungkan adalah raksasa bernama Juventus.

Minggu (28/10), Juventus bertandang ke rumah Catania. Pertandingan tuntas 1-0 untuk Bianconero. Tapi bukan hasil pertandingan yang membikin cerita. Kisah gol Catania yang dianulir lebih heboh dari catatan 48 partai tak terkalahkan yang diukir Juve. Terlebih gol tunggal yang dicetak Arturo Vidal pun terhitung kontroversial mengingat Nicklas Bendtner tampaknya berdiri dalam posisi offside sebelum bola muntahnya disepak Vidal ke gawang Catania.

Tak pelak setelah laga itu ingatan orang-orang terlempar ke masa enam tahun silam. Tahun itu calcio diguncang skandal pengaturan skor yang menampilkan Juventus dan transfer guru mereka Luciano Moggi sebagai tersangka utama yang mukanya dipajang di media-media sebagai pesakitan. Juve dan Moggi terjerat hukuman yang tak ringan. Moggi akhirnya dilarang aktif di sepakbola seumur hidup. Juventus dihadiahi degradasi, sesuatu yang mencoreng wajah suci mereka.

Sejak itu publik langsung menaruh label “curang” di dahi Juventus, terlebih mereka yang tolol yang mudah termakan omong kosong bikinan media. Tak cukup hukuman degradasi, dampak terberat yang dipanggul Juve adalah imej buruk yang melekat. Itu resiko dalam berkehidupan di negeri dan dunia yang membenci mereka. Sebagai superordinat, Juve memang layak dimusuhi. Teori konspirasi mungkin menyatakan Juventus membayar wasit demi melukis hasil pertandingan sesuka mereka. Tapi teori konspirasi bisa juga menyebut bahwa Juve adalah sisi yang dirugikan.

Tak ada yang bisa melarang atau mencegah orang untuk memikirkan kembali tentang calciopoli. Ramai-ramai mereka menuding Juve, si “curang” itu, kembali melakukan cara kotor untuk memenangi pertandingan. Sejarah memang sesuatu yang penting untuk diingat agar kita tak terperosok di masa depan, tapi kita harusnya juga sadar bahwa sejarah kadang membuat kita berpikir sempit, bahkan dangkal.

Kedangkalan itu berupa pemikiran yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Juventus sebagai musuh bersama adalah korban dari prejudis yang dikonstruksi secara masif, massal, dan banal oleh publik lewat bantuan tangan ajaib bernama media. Sebagai orang yang melek, kita mestinya melihat bahwa keteledoran wasit tak hanya terjadi di Catania. Di laga lain, sejumlah klub juga menerima keuntungan atas kekeliruan wasit. Tapi kenapa mereka tak tersorot? Simpel, karena Juve komoditi yang bakal laku sebagai headline di Senin pagi.

Mengubah prasangka memang sulit, karena ia seakan bom waktu yang diam namun sewaktu-waktu bisa saja meledak bila tersulut. Pun, prasangka kadang memang sesuatu yang terlanjur melekat dan susah dihapus, apalagi bagi mereka yang enggan menyadarkan dirinya dari kebohongan yang selama ini membodohinya. Selamat membenci, bukankah sepakbola seru karenanya?

 

Tigapuluh satu oktober dua ribu duabelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s