Patah Hati

Adzan subuh baru lalu ketika gol itu datang di menit 89. Saya mengambil remote dan mematikan televisi, lalu membanting tubuh ke kasur. Juventus memang akan kalah, cepat atau lambat. Tapi kenapa harus putus di tangan klub yang paling saya benci saat ini? Rasanya seperti patah hati.

Saya sepenuhnya mengerti bahwa Juve takkan terus-terusan menang atau seri saja. Musim ini mereka tampak mulai payah dan sering hanya mengandalkan lo spirito Juve untuk bisa tetap menang. Saya sepenuhnya paham bahwa Juventus akan sulit melewati angka 58 punya Milan dan berhenti di titik 49 pun bukan hal yang jelek. Tapi sekali lagi, ah sudahlah.

Hari itu saya pulas dan bangun siang hari, tak memakai televisi, mematikan telepon genggam, tak membuka facebook atau twitter, tak melihat-lihat berita sepakbola. Saya patah hati. Dua musim lalu saya dibiasakan melihat Juve yang payah dan sering kalah. Tapi sudah semusim lebih saya tak merasakannya — kecuali di final Coppa. Saya lupa rasanya kalah dan ketika merasakannya lagi: ini tidak mungkin terjadi.

Di pagi di awal pekan saya mulai menerima situasi. Rupanya patah hati itu butuh waktu lebih dari 24 jam untuk sembuh. Saya kembali ke realita dan siap menghadapi berita dan ejekan tentang kekalahan itu, tentang lawan yang mengalahkan, tentang semua sampah dan omong kosong yang akan didengar dan dibaca.

Patah hati ini mungkin norak dan berlebihan. Tapi anda yang mencintai olahraga ini dengan gairah pasti mengerti betul. Terlebih mereka yang mencintai Juve lebih dari sepakbola, yang meresapi betul frasa juve storia di un grande amore. Bahwa siapapun pernah mencintai sesuatu dan pernah luka karenanya mungkin menjadi penawar bahwa saya tak sendiri. Hanya kadang beda bentuk dan kadar.

Lalu apa patah hati itu? Patah hati adalah melihat Del Piero menangis di hari terakhirnya di Delle Alpi baru, saat dia mengelilingi lapangan dua kali dan menerima hujan syal. Juga, saat Un Capitano mengenakan seragam lain yang tak bercorak hitam putih. Saya mulai menikmati rasanya jadi pecinta yang patah hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s