Tuhan dan Perjalanan

Rasanya sudah lama sekali saya ingin menuliskan tulisan ini.

Kita adalah makhluk yang mencari. Sepanjang hidup rasanya kita dibebani tugas untuk mencari ini itu dalam kehidupan. Sejak jaman sekolah dasar, orang tua dan guru menyuruh kita mencari nilai dan ranking yang bagus. Menjejak remaja, televisi dan teman membujuk kita mencari pacar. Bergerak lebih dewasa, kita secara natural digiring untuk mencari jati diri. Setelah lulus sekolah atau kuliah, kita tahu semua berharap kita mencari duit dan makan dari keringat sendiri.

Selain itu saya percaya bahwa kita, sering atau sesekali, melakukan pencarian terhadap ruh asing yang tak pernah kita lihat, sentuh, genggam, cium, dengar, yang kita sebut dengan tuhan (ijinkan sepanjang tulisan saya memakai t kecil, hanya demi estetika). Beberapa pencarian terhadap tuhan berakhir dengan penjauhan terhadap apa yang dicari. Sebagian menganggap dirinya berhasil.  Sebagian lain sama sekali tak peduli.

Sejak kecil kita diajari mengenal tuhan dengan sebuah kerangkeng ajaib berlabel reliji. Didalamnya terdapat nilai, norma, aturan, spirit, etika, yang mengajarkan kita tetek-bengek tentang tuhan. Intinya, reliji merupakan jalan mencari dan memahami tuhan. Namun, meski tuhan katanya hanya satu, reliji bermacam rupa dan nama. Olehnya kita sering terdistraksi dan menganggap tuhan dan reliji adalah barang yang sama. Kita sesat.

Saya tak tahu apakah telah menuliskan tiga paragraf di atas dengan manis. 

Dalam kesadaran akan kesesatan kita mencari lagi. Apa sebenarnya tuhan? Benarkah ia ada? Reliji makanan macam apa? Penting mana, reliji atau tuhan? Saya sendiri berkesimpulan, pada akhirnya, bahwa reliji hanyalah ritus bikinan manusia yang dibuat untuk menggapai tuhan. Sementara, tuhan adalah esensi yang kekal, yang ada mesti tak tampak, yang lebih fundamental dari reliji.

Olehnya, saya kadang merasa menjadi mahkluk sesat (lebih tepatnya dianggap sesat oleh konteks yang ada) karena pemikiran yang sok filsuf itu. Saya menjalani ritual relijius dengan rutin karena kebiasaan. Saya hampir kehilangan esensinya selain perasaan aneh yang tak tergambarkan jika tak menjalaninya. Perihal tuhan, saya lebih sopan. Saya masih dan akan selalu percaya bahwa tuhan ada. Dan bahwa dia tak marah tentang saya kadang melecehkan reliji.

Saya lalu teringat sosok purba bernama Siddharta yang dikisahkan berubah nama menjadi Buddha. Saya tak perlu menjelaskan siapa dua nama yang berbeda tapi satu orang itu. Yang saya ingin katakan, Siddharta mencapai nirvana dan akhirnya menjadi Buddha setelah ia melakukan perjalanan, melakukan pencarian, tersesat dan akhirnya menemukan, apa yang sejatinya ia cari. Ia menjadi Buddha yang agung.

Semoga kesimpulan di bawah berujung indah.

Tidak. Saya tak ingin menganut Buddhisme. Saya hanya belajar sedikit dari Siddharta tentang sesuatu dalam hidup. Bahwa pencarian harus diterjang dengan beragama duka, airmata, peluh, luka, hari-hari yang mematikan dan rasanya tak kunjung usai, dengan perjuangan. Dan pencarian terhadap tuhan pun saya rasa demikian. Bukankah perlu tersesat untuk menemukan? Bagaimana bisa menemukan jika tak pernah kehilangan?

Satu aspek lain yang tak sengaja saya tiru dari Siddharta adalah bagaimana ia mendapat apa yang dicarinya melalui perjalanan. Maka, saya sejak cukup lama menyadari bahwa saya lebih menikmati tuhan dan serasa mendapatkan keberadaannya bila dalam sebuah pergerakan, dalam perjalanan. Saya tak mendapati tuhan di gedung gereja, bibir pendeta, atau kitab yang terbuka. Saya menemui tuhan di lautan, gunung, dan kaki langit di ufuk timur.

Apalagi jika anda seorang yang gemar berjalan seorang diri di tanah nan asing. Anda akan tahu bagaimana meresapi tuhan. Bahwa tak ada orang lain, keluarga atau teman, yang dapat menolong dan menemani di perjalanan. Maka di situasi seperti itu saya tahu tuhan ada disamping dan beserta selalu dalam gerak langkah saya. Ia mungkin berwujud orang asing, matahari terbenam, atau sepasang burung camar di suatu pagi di selatan borneo.

Akhirnya selesai.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s