Paking

Sejak awal saya memang meniatkan kuliah kerja nyata sebagai sarana untuk melihat tempat lain, memandang langit dan matari dari sudut pandang yang beda, menghirup udara yang lebih indah dan bersih di wilayah nan asing. Jadi singkat cerita tuhan menaruh saya di sebuah desa pinggir Sungai Mentarang, Malinau, Kalimantan Timur. Nama desa itu terdengar aneh: Paking.

Saya mengingat Paking dalam tiga hal: tak ada mobil, listrik cuma empat jam, air yang bersih dan bisa dibuang-buang. Desa tersebut adalah desa pedalaman, meski masih ada desa-desa lain yang lebih terpencil dan lebih pantas disebut sebagai pedalaman. Mencapainya ada dua cara: naik ketinting melewati sungai atau jalan darat yang belum selesai betul pengerjaannya.

Saya ingat betul saat pertama menginjak kaki di dermaga desa itu. Siang terik membakar kulit dan mendesak tenggorokan. Dengan senang hati saya turun dari ketinting dan membenamkan kaki yang telanjang ke air sungai yang segar. Setelah semua barang diturunkan dari ketinting, saya dan yang lain mulai berjalan memasuki jalan desa yang tak beraspal.

Saya lalu menatap wajah-wajah yang melempar pandang dan senyum saat rombongan berjalan tergopoh-gopoh membawa beban berupa logistik atau perlengkapan pribadi. Saya bingung menggambarkan perasaan saat itu. Saya cuma ingat satu kata: asing. Desa itu beserta orang-orangnya, desa yang sebelumnya tak pernah saya injak, akan menjadi teman bagi kehidupan selama kurang lebih satu bulan.

Jadi demikianlah rangkaian kuliah kerja nyata selama, kalau tidak salah, 23 hari berlangsung di Paking. Cerita-cerita pasti tergolek dalam rentetan 23 hari itu. Terlalu panjang untuk menulis naskah tentang masing-masing 23 hari nan unik dan otentik itu. Yang pasti senang, sedih, bosan, kesan, puas, dan segala rasa bercampur aduk membentuk semacam kesimpulan bernama pengalaman.

Saya beruntung masih sempat bermandian di Sungai Mentarang sebelum beberapa minggu terakhir telah meluap karena hujan deras sepanjang malam-malam. Saya puas telah mendengar celoteh anak-anak Dayak yang, ah tak tergambarkan. Pun senang rasanya boleh memahami dunia dari sudut pandang dan cara pikir yang tak sama dengan saat di rutinitas. Saya hanya sesalkan satu hal: belum sempat foto sendiri di jalanan desa yang berlatar belakang gunung.

Tentu cerita disana bukan hanya tentang yang senang-senang saja. Kisah yang tak enak tentu juga ada. Tapi saya sedang rindu pada hari-hari disana dan ingin mengenangnya dalam rupa yang indah dan cerah saja. Jadi negatif mesti ditinggalkan dalam catatan harian saja. Atau mungkin karena saya ingin tunjukkan bahwa lebih banyak bahagia yang saya rasakan disana daripada rasa-rasa lain.

Saya bosan untuk mengulangi kalimat ini: semua yang bermula pasti berakhir. Hari-hari di Paking memang tak akan abadi. Harus ada semacam tanda stop supaya pengalaman disana terasa berarti dan patut dikenang. Seperti hari ini dimana imajinasi saya berulang kali diajak terbang ke masa-masa disana. Saya tak tahu ingin menutup teks ini dengan apa. Saya hanya ingat hampir seluruh warga desa menangis untuk menyambut kepulangan kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s