Jakarta

Membicarakan ruang bernama Jakarta buat saya adalah bicara soal kesesakan. Jakarta memang bukan tempat yang indah, setidaknya bagi saya yang tak doyan bermacet ria di jalanan atau menghirup udara yang sangat kotor. Sampai-sampai saya punya resolusi tak akan membanting tulang alias kerja di kota metropolitan nan brengsek itu.

Lalu suatu waktu saya berkunjung ke Yogyakarta. Pada suatu malam yang dingin, di atas motor yang dikendarai kawan SMA, saya melihat pria tua berjalan dengan tumpukan beban di punggung. Entah apa, mungkin sampah, mungkin harta baginya. Entah kenapa saat melihatnya saya langsung bertanya dalam hati: kenapa pria tua itu tidak ke Jakarta, mencari duit disana, seperti puluhan atau ratusan orang lain yang berjuang demi sesuatu bernama hidup, meski tetap berada di bawah garis sejahtera?

Mungkin, bapak itu seperti saya, yang tak berani dan takut merenda kehidupan di belantara ibukota. Yang tak tahan pada ritme kota yang terlalu cepat, terburu-buru, seakan tak punya waktu sedetikpun hanya untuk sekeder melihat rona senja di langit. Bapak tua itu mungkin pernah ke Jakarta, pernah hidup dan berjuang disana, tapi mungkin ia tak sanggup. Mungkin. Sama dengan seorang supir taksi yang saya temui di Lombok.

Saya saat itu hendak menuju Bali dari Mataram. Maka saya menuju pelabuhan Lembar yang dari sana kapal feri akan berangkat menuju Padang Bai, Bali. Dari Mataram saya menaiki taksi, saya lupa merk bahkan warnanya, saya juga tak ingat nama dan wajah supir taksinya. Tapi saya ingat percakapan kita berdua. Topiknya banyak: dari politik lokal disana, latar belakang sang supir, hingga pengalamannya mengembara ke Jakarta.

Ia bilang pernah menjadi supir taksi di Jakarta, ia tinggal di sekitar Pasar Minggu atau Kalibata, saya lupa. Lamanya ia di Jakarta pun saya lupa. Saya hanya ingat bahwa dia tak betah, tak tahan, tak sanggup lagi hidup dan bekerja di Jakarta, meski ladang pekerjaan melimpah ruah disana, tak seperti di tanah Sasak, tanah leluhurnya. Oleh karenanya, ia kembali ke Lombok dan melakukan apapun di pulau cantik itu untuk menyambung hidup. Ia jadi supir taksi lagi.

Supir taksi di Mataram yang panas siang itu, pria tua di jalanan Jogja yang dingin, dan saya, mungkin kami bertiga tipe yang sama. Pengecut yang enggan bertarung dengan keras di ibukota. Jakarta memang susah, tapi sebagaimanapun susahnya, ia tetap menyajikan apa-apa yang tak ada di Jogja, pun Lombok, Jakarta punya seribu gudang jenis pekerjaan. Sesusah apapun, pilihan tetap ada. Tapi kenapa pergi?

Mungkin karena kami bertiga menganggap ada sesuatu yang lebih berharga untuk diperjuangkan, daripada sekedar uang, prestis pekerjaan, atau prestis tinggal di Jakarta. Ada sesuatu bernama kebebasan, ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian yang tak bisa, orang-orang seperti kami, temui di Jakarta. Makanya, pria tua dengan beban di punggung tadi tinggal dalam ketenangan Jogja, supir taksi itu menyisir jalanan di pulau yang sangat cantik, dan saya? Saya akan ke suatu tempat yang membuat saya merasa hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s