Tanda

Bukankah hidup adalah dunia tanda. Semua hal dalam hidup berkaitan dengan tanda-tanda, termasuk bahasa dan marka jalan, termasuk simbolisme-simbolisme material, termasuk kedipan mata, gigitan bibir, jari tengah, dan segalanya. Demikian pula takdir dan nasib yang merupakan pihak yang menjadikan manusia sebagai mainan pun menggunakan tanda untuk menyampaikan pesan atau mungkin sindiran pada makhluk berotak yang tak pernah berontak pada nasib.

Suatu siang saya sedang mengendarai mobil pulang ke rumah dari kantor imigrasi. Saya menyetel Oasis dari pemutar kaset di mobil, klasik bukan? Kaset tersebut adalah album Stop The Clocks yang merupakan album kompilasi band asal Manchester itu. Lagu-lagu terbaik mereka berputar dalam kesempitan mobil mini itu. Tapi siang itu, yang terik seperti biasa, cuma satu lagu yang membuat saya berpikir ketika suaranya mengalun, The Importance of Being Idle.

Saya biasa menyukai sebuah lagu dari lirik, baru musiknya. Lagu tersebut berlirik sangat unik, keren, hebat, ciamik, dan ungkapan-ungkapan fenomenal lain yang bisa keluar untuk memuji kata-kata sang penyair dalam lagu itu. Saya tak usah ceritakan liriknya, toh ada google. Saat lagu itu berputar saya mengingat novel Paulo Coelho yang sedang saya baca di rumah, Veronika Decides to Die. Novel tentang seorang perempuan Slovenia yang ingin bunuh diri.

Tapi novel itu toh tak hanya tentang bunuh diri. Ia juga berdendang tentang kegilaan, rumah sakit jiwa, penyakit mental lain, kehidupan sosial yang menekan, masyarakat yang sejatinya gila, manusia yang pura-pura normal, dan sebagainya. Saya juga takkan menceritakan seluruh isi novel, toh ada toko buku, atau ebook gratis di internet. Saya merasakan seperti ada selapis benang yang menghubungkan lagu Oasis tadi dengan novel Coelho itu.

Tapi itu belum cukup. Sesampainya di rumah saya membuka e-magazine yang sebelum ke kantor imigrasi saya unduh dari sebuah situs majalah elektronik tentang backpacking. Dalam majalah itu ada suatu artikel yang menggugah saya untuk membacanya utuh, judulnya Passion atau “Kembali ke Jalan yang Benar”? Isinya tentang pergulatan penulis tentang pilihannya menjalani passion hidupnya ditengah tekanan lingkungan sosial terdekatnya untuk “kembali ke jalan yang benar”, kembali ke normalitas, kembali ke kekakuan sistem kehidupan yang sok bebas ini.

Untuk merangkum, sepanjang siang saya mendengar lagu yang salah satu bagian liriknya berbunyi “I can’t get a life if my heart not in it”, lalu teringat novel tentang kenormalan yang dibuat-buat, lalu sampai rumah membaca artikel tentang passion yang sering ditentang. Kali ini ketiganya terasa membentuk jalinan yang saling terhubung oleh suatu garis maya yang entah apa namanya. Seakan takdir atau mungkin Tuhan sedang mengirim pesan, sedang mengirim tanda. Seakan semuanya kebetulan, tapi saya bukan tipikal yang percaya dengan kebetulan.

Apa arti semua ini, semua tanda-tanda itu? Haruskah saya percaya pada tanda-tanda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s