Gadis Pantai dan Rindu yang Teredam

Entah kenapa sejak bangun tadi siang saya merasakan getar gemetar yang aneh. Seperti ada gelora rasa yang ingin pecah, yang mekar begitu saja tanpa dirawat. Seperti sebongkah rindu akan bibir lautan, akan pasir pantai, akan nyiur, akan desau angin pesisir, akan debur ombak, akan omong kosong bernama kedamaian, akan sunset dan sunrise. Seperti lagu melankoli yang mendayu-dayu tentang kangen dan harap tak kunjung nyata, tentang ketidakterjangkauan.

Menjelang langit menghitam, sebelum suara azan bertalu-talu, saya berada di bawah langit di samping kamar. Terbayang di benak saya sedang berjalan seorang diri di sore yang jingga di suatu pulau cantik di utara Lombok. Saya mengunyah permen karet dan menenggak sekaleng cocacola mahal sambil melumat jingga yang perlahan menjadi kelam malam. Dengan sepeda saya menyisir pulau yang mini itu, pulau yang dipanggil gili karena ukurannya, dan bernama Trawangan.

Ah tapi saya tak sedang disana. Saya hanya sedang di rumah tercinta, yang tak kalah indahnya memang dengan gili, tapi sayang tak ada laut disini, tak ada langit yang biru telanjang, tak ada nyiur terhembus bayu, tak ada pasir putih menyilaukan, tak ada bule-bule berbikini. Tapi memang begitulah duka yang bisa ditimbulkan oleh kenangan dan perjalanan. Ia membeku dalam ingatan, dan tanpa sadar ia telah menusuk ulu hati.

Saya hanya bisa pasrah kali ini meringkus senja di halaman rumah. Tapi setidaknya rindu itu agak teredam, oleh sepotong sastra karya Pramoedya, sastrawan terhebat yang pernah dipunyai Nusantara. Bukunya berjudul Gadis Pantai, bercerita tentang seorang gadis pantai yang menjadi istri priyayi, lalu dibuang lagi ke lembah kemiskinan kampung nelayan setelah melahirkan anak perempuan. Memang buku ini belum habis saya baca, baru separuhnya.

Buku ini sebenarnya merupakan awal dari trilogi. Tapi karena kebrengsekan negara pada masa itu, dua karya lainnya diberangus dan hilang menguap tanpa sisa, tanpa jejak. Jadilah Gadis Pantai ini menjadi potongan yang abadi, yang tak pernah utuh. Mungkin seperti kenangan, atau kerinduan yang tak menemu ujung. Ia hanyalah penggalan, yang tak pernah selesai, yang selalu menggantung.

Rasanya kerinduan dan sastra yang terbaca ini saling melengkapi di hari yang makin tua.

Advertisements

One thought on “Gadis Pantai dan Rindu yang Teredam

  1. Gadis Pantai suatu mosaik dari trilogi, seperti juga kehilangan tak berketentuan yang selalu membangkitkan rindu..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s