Tentang Melihat Dunia

“Mungkin bila kita masih disana, nyaman dalam pangkuan bunda, kita akan tetap hanya seonggok bara / tapi bila kita  di atas tanah di bawah langit orang lain maka kita akan berupaya untuk jadi sebuah nyala, mungkin” (sepenggal puisi bapak)

Seorang yang saya kagumi tulisannya suatu waktu pernah mengutip kalimat yang pernah dilontarkan ibunya kepadanya. Kalimat itu kurang lebih berbunyi: seorang laki-laki tak boleh hanya tinggal di rumah, seorang laki-laki harus pergi melihat dunia. Saya cukup tercambuk oleh kalimat itu, seakan kalimat itu diucap oleh ibu saya sendiri. Saya memang tahu bahwa saya ingin melihat dunia, tapi kalimat itu menjadi penegas yang sempurna.

Waktu lalu membawa saya pada perjalanan. Perjalanan yang saya lakukan itu berlabel kuliah kerja nyata, namun bagi saya perjalanan itu lebih dari sekedar kuliah, apalagi kerja. Perjalanan itu seakan rajutan benang yang akan membawa saya pada sulaman cita-cita yang utuh, entah kapan. Saya menuliskan ini di tengah lautan yang terhimpit Kalimantan dan Sulawesi. Sebutlah saya sedang merintis untuk melihat seluruh dunia. Ah mungkin berlebihan.

Tapi bicara soal melihat dunia, kutipan kalimat dari seorang ibu kepada anaknya di atas tadi rupanya belum cukup tajam dibanding apa yang saya temukan dalam perjalanan ini. Saya menumpang kapal perang milik tentara nasional. Saya bersama teman-teman lain bergabung bersama korps pelaut tentara nasional Indonesia. Di lautan selama kurang lebih enam hari kami merajut persaudaraan. Dalam upaya merajut itu, saya mendapat entah cambukan atau apa.

Saya baru tahu bahwa seorang yang dididik di akademi untuk menjadi tentara pelaut diberikan dan diwajibkan untuk mengelilingi dunia dengan berlayar menggunakan kapal bernawa Dewa Ruci. Adakah yang lebih berharga bagi laki-laki selain kesempatan untuk melihat dunia, untuk memutarinya, untuk menyesap wangi-wangi yang berbeda di tiap udara di tiap lautan dan daratan di dunia? Pada akhirnya saya sadar saya belum kemanapun di belahan dunia ini dibanding pelaut-pelaut itu, oleh karenanya saya mesti lebih banyak lagi berjalan, melihat, menghirup.

Ditulis di Lambung Mangkurat yang sedang berlayar di keliaran Laut Sulawesi, 22 Juni 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s