On The Road

Akhirnya saya menuntaskan membaca buku ini. Buku karangan Jack Kerouac yang dituding sebagai penanda Generasi Beat yang masyhur itu. Saya tak tahu berapa lama sudah membaca buku itu, rasanya cukup lama, tapi wajar bagi pembaca yang lambat seperti saya. Buku yang saya dapat secara cuma-cuma dari internet dalam bentuk ebook itu lalu saya print menjadi format fisik. Saya turut membawanya dalam kuliah kerja nyata ke Kalimantan belum lama ini. Ia adalah hiburan yang menyenangkan di siang yang panas dan tanpa angin di suatu desa di pesisir sungai di Borneo.

Saya sudah lama cari buku ini. Suatu waktu seorang senior memberi tahu bahwa buku itu dijual di salah satu toko buku kelas menengah atas di mal kelas menengah atas pula di Jakarta. Saya tertarik meski tahu harganya pasti mahal. Tapi lalu senior itu menahan niat saya dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi “ngapain beli buku hippie mahal-mahal, cari aja gratis di internet”. Demikianlah saya mengikuti sarannya. Benar juga. Kerouac mungkin akan marah mendapati bukunya di jual oleh kapitalis di tempat yang mewah dengan harga yang menjulang. Kasihan dia.

Buku On The Road punya saya bersampul warna biru dengan foto Kerouac dan Neil Cassady di halaman depan. Cassady adalah Dean Moriarty dalam kisah buku tersebut. Orang yang menurut saya adalah tokoh utama buku tersebut. On The Road bagi saya bukan hanya sebuah catatan perjalanan yang dilakukan oleh Kerouac (Sal Paradise, dalam buku) tapi juga catatan panjang Kerouac tentang seseorang yang sering digambarkannya sebagai frantic dan psychedelic. Jika kemudian banyak orang menobatkan buku ini sebagai penanda suatu generasi, maka Cassady pantas ditunjuk sebagai biang kerok hadirnya generasi pemberontak itu.

Cassady alias Dean adalah orang yang menjebak Kerouac alias Sal ke dalam kecintaan pada petualangan dan hidup yang bebas, penuh pemberontakan. Saya duga keras Kerouac sangat mengidolai Cassady. Ia yang membawa Kerouac dalam perjalanan-perjalanan gila yang kemudian dituliskannya menjadi sebuah karya yang sering dianggap sebagai travelogue paling hebat sepanjang sejarah manusia. Bisa jadi Cassady adalah semacam Tuhan bagi kaum Beat, sedangkan Kerouac adalah nabinya.

On The Road terbagi ke dalam lima bagian. Tentu saya tak mengingat keseluruhan cerita dengan detail, tapi hanya gambaran umum. Bagian pertama dikisahkan Sal mulai melakukan perjalanan ala hitchhiking seorang diri didorong oleh kekecawaan perceraian yang baru dialaminya dan kebutuhan sebagai penulis untuk banyak melakukan perjalanan. Tentu ia melakukannya setelah bertemu Dean Moriarty. Ia merayakan sensasi petualangan seorang diri dan bertemu dengan beragam orang asing. Ia mengunjungi beberapa teman lama dalam perjalanan dimana mereka selalu berpesta sepanjang malam. Ia pun bertemu dengan seorang gadis Mexico yang kemudian ditinggalkannya.

Bagian kedua diceritakan Sal sedang merayakan liburan natal di rumah salah satu keluarganya saat Dean tiba-tiba muncul dengan pacarnya Marylou dan Ed Dunkel. Dean digambarkan merusak natal Sal dengan cara yang menyenangkan. Mereka kemudian melakukan perjalanan ke berbagai tempat: New York, New Orleans, San Francisco, dan sebagainya. Ed berpisah dengan ketiganya untuk kembali ke istrinya. Dean kemudian meninggalkan Sal dan Marylou untuk mencari Camille, perempuan yang juga dicintainya. Marylou lalu meninggalkan Sal untuk bersama lelaki lain. TInggallah Sal sendirian dalam kesepian dan tanpa arah tujuan. Ia lalu memutuskan pulang ke rumah.

Bagian ketiga, Sal yang kesepian memutuskan untuk menemui Dean yang tinggal bersama istrinya Camille di kota lain. Rumah tangga  Dean saat itu sedang dalam kondisi tidak baik, ia kemudian diusir keluar rumah. Dean dan Sal yang sedang bersedih hati memutuskan akan pergi ke Italia. Mereka memang tak pernah sampai ke Italia, tapi melakukan perjalanan yang luar biasa. Bagian ketiga ini bernuansa sedih. Saya percaya bahwa perjalanan sangat berguna untuk mengobati luka akibat kesedihan dan prahara, juga lari sejenak dari kenyataan. Bagian ketiga ini membuktikan dan menceritakan hal itu dengan baik.

Bagian keempat adalah puncak. Sal akan pergi seorang diri ke Mexico. Dean awalnya memutuskan tidak ikut karena bersama istri barunya Inez sedang menikmati manisnya rumah tangga. Tapi saat di tengah perjalanan, tiba-tiba Dean menyusul Sal dengan mobil Ford ’38 yang baru dibelinya. Mereka bersama Stan menempuh ribuan kilometer mencapai Mexico. Diceritakan mereka sangat antusias dengan pengalaman ke Selatan ini, ditambah kepekaan yang mereka rasa saat mendapati masyarakat terpencil di dekat hutan Mexico, membuat bab ini menarik. Di Mexico City, Sal terserang demam. Dean meninggalkannya untuk mengurus perceraiannya.

Bagian terakhir terdiri dari sedikit cerita. Dean kembali ke istri sebelumnya Camille, Sal pun telah tinggal bersama istrinya Laura. Dean mengunjungi Sal dan nostalgia merebak. Tapi itu tak lama. Mereka tak melakukan perjalanan lagi di bagian pamungkas ini. Setelah Dean pulang kembali, cerita praktis habis. Penutupnya adalah ungkapan Sal bahwa ia merindukan Dean dan perjalanan-perjalanan yang mereka lakukan. Ia seringkali memikirkan Dean, beserta kegilaan, pemikiran, dan kebebasannya. Terlihat bahwa Dean alias Cassady adalah semacam Yesus bagi Sal alias Kerouac.

Demikianlah sedikit gambaran umum On The Road. Pertama membacanya saya akui saya sedikit bingung, sebenarnya ini novel tentang apa. Perlahan setelah memahami alur dan gaya penulisan Kerouac saya sadar yang sedang di hadapan saya adalah keindahan. Saya lalu mabuk dan larut dalam tulisan Kerouac. Serasa saya sedang bersama mereka, melintasi jalanan Amerika yang berdebu dengan mobil tua berkecepatan maksimum, rambut terhempas angin gurun, muka terpapar debu dan panas matahari, kaki menjejak kota-kota di malam yang abu-abu. Sampai akhirnya saya diturunkan di kenyataan, dan kisah habis.

On The Road ialah sebuah sastra yang lengkap dimana ia tak hanya bicara soal perjalanan, tapi juga cinta, hidup, mati, keluarga, pertemanan, masyarakat, musik, pemandangan, negara, isu-isu sosial, dan sebagainya. Ia sangat manusiawi. Oleh karenanya wajar bahwa On The Road ini begitu masyhur, bahkan menjadi favorit bagi Jim Morisson, John Lennon, atau Bob Dylan. Ia tak hanya jadi simbol satu generasi, tapi ciptaan abadi yang patut dibaca generasi-generasi selanjutnya. Bahwa semangat Beat yang penuh aura pemberontakan harus dipelihara meski akan selalu tercekat aturan.

Advertisements

2 thoughts on “On The Road

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s