Cerita Kopi #1

“Even bad coffee is better than no coffee at all.” (David Lynch)

Hubungan saya dan kopi mungkin belum sampai tahap adiktif. Tapi rasanya kami berdua saling posesif. Jika ada daftar 10 benda (bukan manusia) yang paling penting bagi saya, kopi pasti masuk di daftar itu. Bicara soal kopi tentu bicara soal cerita. Sejak kecil hingga kini kopi memang menorehkan cerita-cerita dalam kehidupan saya.

Bapak saya sangat suka kopi. Sebagai orang Toraja asli, tentu tak aneh apabila kebiasaan ngopi begitu lengket pada kesehariannya. Biasanya jika ia sedang di rumah, ibu atau nenek akan membuatkannya secangkir kopi yang ditaruh di atas meja di pojok favoritnya di rumah. Selepas bangun tidur ia akan menuju cangkir kopi itu, mengangkatnya, mendekatkan bibir pada ujung cangkir, meminumnya sedikit, lalu menaruh lagi di atas meja. Lalu ia mulai sibuk dengan rokok ardath kesukaannya sambil membolak-balik halaman koran atau buku yang sedang dibacanya. Terkadang ia membawa cangkir kopi itu ke teras dimana ia menghabiskan waktu dan kopinya sambil tetap merokok, membaca, atau menulis sajak.

Sejak SD hingga SMA saya sering mencicipi kopi miliknya tanpa bilang-bilang. Biasanya kalau ia masih tidur atau sedang keluar rumah sebentar, saya diam-diam menghampiri cangkir kopinya, lalu menyeruputnya sedikit, sedikit saja. Kalau misalnya ia sudah pergi, baik itu ke kantor atau ke tempat lain, dan kopinya masih sisa, saya akan dengan senang hati menghabisinya sampai ampas menempel di bibir. Tak hanya kopi bapak saya, kadang saya juga melakukan hal serupa pada kopi nenek saya. Ya, nenek saya juga punya kebiasaan ngopi. Biasanya ia bangun pagi dan langsung membuat kopi untuk sepanjang hari. Bakat dan kebiasaan mereka rupanya turun ke saya.

Selain sesekali mencuri kesempatan meminum kopi bapak dan nenek saya tidak pernah minum kopi dari kecil hingga kelas 2 SMA. Baru saat memasuki kelas 3 saya beberapa kali membikin kopi untuk diri sendiri. Tapi itu tak terlampau sering, biasanya saya membuat kopi  saat ada niatan begadang demi belajar untuk ujian nasional. Selebihnya tidak. Sebelum malam saya akan membeli sachet kopi instan yang sering diminum kakak saya. Saya menirunya karena kopi tersebut terkesan cocok buat anak muda, jadi saya ikut-ikutan. Menjelang tengah malam saya akan menyeduhnya tak sampai penuh, lalu saya tuang air dingin. Kopi jadi. Tapi biasanya saya tak jadi belajar.

Memasuki bangku kuliah, intensitas begadang jadi lebih sering. Demikian pula keseringan minum kopi. Ia adalah teman setia yang menjagai saya dalam melewati malam yang dingin dan tugas-tugas kuliah yang kadang tak kalah dingin, beku malah. Menjelang deadline suatu tugas kuliah, tugas kopi lebih krusial. Meski kadang saya ragu dengan mitos bahwa kopi membuat kita tidak mengantuk, tapi sebagai sugesti, minum kopi ampuh untuk membuat terjaga sepanjang malam.

Karena semakin sering begadang dan semakin sering ngopi, kopi tak lagi hanya untuk malam hari. Tak jarang siang, sore, atau bahkan pagi, lidah saya seperti meminta untuk merasa kopi. Saya menuruti kemauan indera pengecap saya itu, membuatkannya kopi. Kopi kemudian jadi semakin sering mewarnai lidah dan hari-hari saya. Di rumah, di kampus, dimanapun, saya seringkali tak sadar dan tiba-tiba mendapati ada sekaleng kopi dingin di genggaman, atau segelas kopi hitam berasap di hadapan. Lalu saya mulai mendekatkan mulut ke ujung kaleng atau gelas, meresapi wanginya, menghabisi isinya, pelan-pelan, tak pernah terburu-buru.

Bersambung….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s