Post-Travel Blues

Ada semacam perasaan yang kita rasa selepas kita menyelesaikan sebuah perjalanan. Kadang perasaan itu tahan lama dalam diri dan hari-hari, hidup dalam ingatan, dan pecah ke udara bersama warna-warninya. Saya yakin setiap pejalan yang mencintai perjalanan pernah merasakannya. Merasakan depresi mini pasca melakukan perjalanan. Sebabnya bisa macam-macam, mungkin karena ketidakbiasaan hidup dalam rutinitas di rumah atau mungkin kerinduan akan perjalanan itu sendiri.

Saya rasa saya sedang terjangkit perasaan itu, perasaan biru yang dalam Lonely Planet dinamai sebagai post-travel blues. Ada yang gamang setelah berada di rumah lagi setelah lebih dari sebulan hidup di bawah langit pulau yang lain, atau laut yang lain. Semacam ketidaksiapan hidup dalam kebiasaan lama yang penuh rutinitas memabukkan. Rasanya ada yang aneh ketika bangun pagi dan mendapati kita berada di dalam rumah, bukan di ruangan lain di tempat asing yang jauh dari rumah.

Saya jujur agak depresi kali ini. Rasanya tak betah setiap menghabiskan siang yang terik dan kering di dalam rumah. Memang saya saja yang tolol, yang tak keluar rumah dengan alasan panasnya terlalu menyengat dan debu kota yang membikin alergi. Rasanya ingin keluar rumah lagi mencari perjalanan ke tempat lain yang menyimpan cerita warna-warni, apalagi libur masih panjang. Tapi toh harap tak jadi nyata.

Dengan beragam alasan, baik yang menunjukkan kesatriaan maupun yang mencerminkan kepengecutan, saya memilih untuk menetap di rumah selama sisa liburan. Memang saya memiliki teori bahwa cara terbaik membantai post-travel blues adalah dengan mengadakan perjalanan lagi. Dengan itu juga sebuah perjalanan merupakan proses yang tak pernah henti. Orang berpergian, lalu mengalami haru biru pasca-bertualang, lalu keluar lagi mencari pengembaraan. Demikian seterusnya hingga perjalanan tak pernah benar-benar stop.

Namun kali ini saya berpikir ada baiknya untuk sejenak berhenti dari impian dan hasrat untuk melihat tempat yang asing dan masyarakat yang berbahasa lain. Mungkin kali ini saya perlu belajar bahwa perjalanan meski takkan berhenti, tetaplah perlu jeda. Jeda itu bisa digunakan untuk mengisi kekosongan-kekosongan yang mungkin didapat kala melakukan jejalan. Jeda itu bisa juga dijadikan ruang untuk merenungi perjalanan yang baru saja dilalui agar tak begitu saja menguap sebagai hambur-hambur waktu dan uang. Perjalanan lebih dari sekedar yang tertulis di Lonely Planet, bukan?

Jadi demi mengisi ketiadaan perjalanan saya mungkin akan memperbaiki catatan-catatan perjalanan terdahulu yang tak pernah usai dan selalu menggantung sebagai kisah yang tak punya ujung. Mungkin waktu memberi saya kesempatan untuk menaruh ujung pada cerita-cerita tersebut, agar perjalanan itu bisa abadi dan dinikmati lagi kelak. Mungkin juga waktu luang ini bisa dimanfaatkan untuk membaca novel-novel yang juga tak pernah tuntas dibaca. Rasanya saya seringkali memulai sesuatu tanpa pernah menyelesaikannya.

Saya tak tahu bagaimana harus menutup teks omong kosong ini. Mungkin saya bisa menganjurkan bahwa post-travel blues tak perlu dimaknai sebagai patah hati yang menyiksa. Ia harus diartikan sebagai sesuatu yang mesti dirayakan, dirayakan dengan berbagai hal yang mungkin bisa mengobati kebiruan itu. Untuk diri sendiri dan pejalan yang sedang membiru hatinya, saya ucapkan selamat merayakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s