Lautan

“The sea’s only gifts are harsh blows, and occasionally the chance to feel strong”

Di atas adalah salah satu monolog yang diucapkan Christopher McCandless dalam film tentangnya, Into the Wild. Ia mengutarakannya saat sedang bermandian air di tepian laut bersama seorang hippie perempuan yang dikenalnya di jalan, Jan Burres. Kalimat monolog tersebut memang dirangkai dengan indah, apalagi kemudian disusul dengan frasa “how important it is in life not necessarily to be strong, but to feel strong.” Tapi saya tak pernah benar-benar bisa mengerti dan merasakan sendiri apa maksud ungkapan tersebut. Sampai suatu saat.

Takdir membawa saya berkesempatan melaut lagi, setelah pertama dan terakhir kali melaut saat badan masih sebagai anak kecil yang polos dan belum dijebloskan dalam sekolah. Saya toh tak ingat pernah melaut kala masih kecil, hanya tahu dari cerita dan foto, jadi anggap saja ini pengalaman pertama. Memang beberapa kali saya pernah melewati selat, tapi selat bukanlah laut. Meski biru dan bergelombang, selat adalah selat, laut adalah laut.

Kurang lebih sepuluh hari saya melakukan perjalanan laut, lima hari berangkat, lima hari pulang. Kala itu Laut Jawa sedang sadis-sadisnya, ombak bergelombang menghantam tak kurang dari lima meter. Dalam perjalanan pergi saya muntah tiga kali dan yang keempat mungkin akan muntah darah dan bisa mati. Saat pulang saya tak muntah tapi menahan makan dengan gigih hingga pernah seharian lebih tak makan apa-apa.

Saya jadi tahu apa bedanya selat dan laut dari situ. Terlebih saya menaiki kapal tentara berukuran relatif kecil sehingga ombak sangat terasa. Sebagai orang yang pernah berhasrat mati di laut dan pernah menulis puisi hiperbol dengan larik berbunyi “aku ingin berumah di lautan”, saya jadi ingin merevisi keinginan dan baris puisi itu. Laut ternyata tak setenang dan semenyenangkan yang dikira. Ia adalah alam liar yang sesungguhnya.

Tapi pengalaman sepuluh hari di laut membuat saya paham dengan monolog McCandless yang saya kutip di awal tadi. Gelombang dan ombak adalah hadiah dari lautan yang harus kita nikmati, karena sebagaimanapun kerasnya, mereka memberikan sesuatu, yaitu kesempatan untuk merasa kuat. Di tengah badai laut yang mendera kita punya kesempatan untuk merasa kuat tanpa perlu benar-benar menjadi kuat. Sesuatu yang belum tentu kita dapat di darat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s