Singai Terang

Sudah dua hari dua malam nafas terhembus di bentang udara Singai Terang, sebuah kelurahan yang merupakan bagian dari kecamatan Mentarang, kabupaten Malinau, provinsi Kalimantan Timur. Tempat ini adalah sebuah kemajuan dibanding hari-hari yang lalu di desa Paking, sekitar 30 menit dengan menggunakan ketinting. Sinyal ada meski hanya satu provider, aspal mengalasi jalanan, motor tak jarang terlihat, dan akhirnya setelah 23 hari saya melihat mobil.

Intinya di Singai Terang ini saya kembali menjumpa peradaban. Memang bukan sebuah peradaban yang maju betul, tapi paling tidak bisa mengobati kerinduan akan jaman yang modern, jaman yang selama hampir sebulan saya lupakan dan tinggalkan. Kini kemeriahan peradaban semakin saya rasa tatkala tangan menulis kalimat meracau di ruang kicau dunia maya. Euforia merebak. Rasanya seperti keluar dari belantara selama waktu lama dan melihat pucuk gedung pencakar langit.

Tapi disini, di Singai Terang, perihal air tak lebih baik dari Paking, kalau tak mau dibilang lebih buruk. Di Paking, air adalah komoditi yang dihambur-hambur seakan tak ada arti, melimpah, mengalir tanpa henti dan mengucur dengan derasnya menyeka keringat sepanjang hari bahkan dua hari. Sementara di Singai Terang ini saya bersyukur sekali pernah mandi satu kali dengan air yang cukup layak. Selebihnya bak air memang melimpah, tapi dengan warna coklat pekat, langsung disedot dari sungai yang airnya sedang besar, sedang tak jernih. Dan untuk menghindar mandi disitu perlu sedikit ketidaktaumaluan untuk menumpang mandi di rumah orang, itu pun dengan kondisi air yang tak lebih baik dari Paking. Tapi lumayanlah.

Kini saat sedang menulis kata-kata ini, saya sedang duduk di balkon lantai atas di sebuah rumah sederhana yang cukup besar untuk ukuran daerah ini. Saya terduduk di kursi kayu kecil sambil menatap gemerlap bintang yang banyaknya tak seberapa. Di bawahnya lapangan bola terbentang luas memberi keleluasaan mata untuk memandang rumah-rumah di seberang lapangan. Jejeran rumah itu seakan memiliki mata yang terang. Lampu. Benda yang selama 23 hari sebelumnya hanya saya lihat 4 jam sehari.

Sambil sejenak menikmati dunia maya dari telepon genggam milik teman, saya menikmati malam di tempat asing itu. Langit malam yang berbintang sedikit itu mengingatkan saya pada seseorang di seberang pulau. Seseorang yang mungkin sedang cantik-cantiknya sehingga hanya ada sedikit bintang malam ini, demikian kata sepenggal lirik lagu Payung Teduh. Terbuailah saya dalam imaji bikinan sendiri, juga lantunan nada-nada yang resah, juga kehebohan ruang kicau. Tak lama suara teriak memanggil dari dalam rumah itu. Rapat menanti. Buyarlah semua keindahan malam.

Singai Terang, 17 juli 2012, pada suatu malam yang kurang kerjaan (persis seperti malam-malam lain).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s