Carpe Diem

Kita mungkin telah sadar bahwa masa depan hanyalah mitos yang diciptakan entah oleh siapa demi tujuan tertentu. Semua orang memakainya demi justifikasi untuk memerintah hidup orang lain, hidup kita. Tapi pernah kita berontak?

Orang tua membawa-bawa masa depan untuk menyuruh kita duduk manis di bangku sekolah, bahkan sejak kita belum tahu apa itu sekolah. Mungkin agar kita hidup mapan nanti, tidak susah, dan kalau bisa jadi orang kaya. Agama pun memakai juga alasan masa depan dengan modifikasi bernama surga dan neraka. Tujuannya agar kita taat pada tuhan dan dunia bisa tinggal dalam keteraturan. Masa depan lalu jadi konsensus yang diciptakan masyarakat agar satu sama lain saling memenjara.

Dan demikianlah kita hidup sedemikian panjang dalam kungkungan mitos itu. Seberapa diantara umat manusia yang tak sekolah, tak beragama, atau tak pernah disuruh memikirkan masa depan? Paling hanya segelintir pemberontak yang melakukannya, benar-benar segelintir. Sisanya paling tidak pernah membayangkan masa depannya sendiri. Akan jadi ini, akan kesitu, akan punya ini itu. Bahkan kadang dalam rangkuman yang detil.

Sayangnya omong kosong soal masa depan bagi saya hanyalah pertunjukkan yang menampilkan bahwa kita hanyalah tahanan. Terlampau sibuknya mengawang-awang tentang futur kita malah jadi takabur. Yang kita sedang hidupi justru tak terperhatikan tatkala mata kita terlalu fokus pada bayang-bayang samar di ujung jalan. Dan yang kita jejak adalah entah apa. Mungkin sampah atau jalan menuju neraka.

Seorang yang berasal dari jaman purba lalu menasihati dengan adagium “carpe diem quam minimum credula postero” yang kurang lebih berarti “raihlah harimu, percayalah sedikit mungkin akan hari esok”. Kita, orang yang sering terpatok pada esok hari itu, lalu mengingat nasihat itu secara singkat dengan carpe diem, tentu tanpa melupakan esensi kalimat penjelasnya.

Carpe diem mungkin semacam surat dari masa lalu bagi manusia masa kini agar berpikir tentang hari ini saja. Untuk apa sibuk menayangkan rekaman dari masa depan apabila kita belum tentu mencapainya? Kenapa kita tidak urus saja urusan hari ini dan mengurus urusan besok pada esok hari ketika esok hari telah jadi hari ini? Tentu saya akan dikutuk sebagai munafik dan tolol karena berpikir laiknya orang primitif. Ini jaman baru bung! Otak harus membayangkan esok hari bahkan minggu depan atau tahun depan seraya tangan mengerjakan pekerjaan hari ini. Ah.

Pada akhirnya carpe diem hanyalah sekedar alarm sambil lalu yang mungkin sesekali bisa untuk mengingatkan manusia agar sedikit berpikiran primitif, menikmati detik yang sedang dilalui, dan melupakan bahwa masa depan itu ada. Sesudah menikmati sejenak carpe diem itu orang boleh saja kembali kepada kepatuhannya pada mitos soal hari esok dan mungkin lain kali ia akan menengok lagi pada carpe diem, sejenak.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s