Post-Euro

Dan benar saja. Tahun ini saya tidak bisa menikmati Euro, turnamen sepakbola terakbar di Eropa. Adalah tuntutan kuliah kerja nyata di perbatasan yang membuat hingar bingar Euro tak tersentuh sama sekali. Persis seperti dugaan saya sebelumnya. Saya ditaruh di titik yang listriknya hanya menyala sampai jam 11 malam: Desa Paking, Kabupaten Malinau. Kalaupun ada rumah yang memiliki genset pribadi, itu pun tak ada arti karena sinyal menjelang pertandingan akan diacak. Mustahil.

Jadi demikianlah saya merasakan Euro tanpa merasakannya. Pertandingan Italia vs Spanyol di penyisihan grup adalah pertandingan terakhir yang saya nikmati senikmat-nikmatnya. Saya sempat melihat Jerman vs Yunani saat di kapal, tapi itu tak sampai setengah babak karena kapal berputar sehingga membuat sinyal hilang. Saya tak terlalu mengerti teori kapal berputar itu. Jadi saya nikmati saja takdir yang gila ini.

Alkisah suatu sore di lapangan voli di depan gereja, saya mendapatkan kabar dari seorang penduduk berambut cepak bahwa Euro sudah masuk babak semifinal. Sebelumnya saya telah mengetahui kontestan yang masuk perempatfinal saat telah keluar dari pelatihan mental dan fisik oleh marinir. Di Stasiun Senen saya membuka livescore dan tahu delapan tim yang lolos dari penyisihan grup. Setelahnya saya buta. Hingga sore itu.

Penduduk desa tersebut yang merupakan bapak dari tiga orang anak memberi tahu bahwa Jerman, Portugal, Spanyol, dan Italia adalah tim yang akan berkelahi di empat besar. Antara senang dan sedih. Senang karena Italia berhasil mengalahkan Inggris dan melaju lebih jauh. Sedih karena tidak bisa menikmati kiprahnya. Sesama negara Iberia akan bertarung di semifinal. Italia akan menantang kesempurnaan Jerman laiknya ulangan semifinal Piala Dunia 2006.

Dan waktu berlalu begitu saja seperti desir angin. Berita soal Euro tak ada lagi. Tak ada koran, tak ada televisi, tak ada radio, tak ada sinyal telepon. Habis sudah. Kesempatan untuk sekedar tahu hasil pertandingan raib. Saya hanya pasrah menunggu kabar. Kabar yang akhirnya datang di suatu sore. Lagi-lagi sore. Saya sedang membeli minyak goreng di warung sebuah rumah panggung yang tinggi. Itu sore sebelum final digelar.

Si pemilik toko sedang berbincang dengan seorang ibu. Mereka mengobrol tentang final itu. Kemudian saya datang. Saya membeli minyak kemudian bertanya pada si bapak pemilik warung tentang siapa yang masuk final. Ah, Italia vs Spanyol. Apa yang bisa diharapkan lagi selain final seideal itu? Final antara dua juara dunia terakhir. Final antara tim yang hebat menyerang dengan pertahanan tradisional yang canggih. Sekali lagi saya diliputi dua perasaan bertolak belakang.

Tapi sejatinya saya lebih merasa sedih dibanding bahagia. Bagaimana bisa saya melewatkan perjalanan Azzurri hingga ke final? Bagaimana bisa saya tidak menonton mereka mengalahkan Jerman di semifinal yang pastinya mengulang memori indah pada 2006? Bagaimana bisa saya akan tertidur saat final Euro terbaik akan dilangsungkan? Rasanya saat itu sungguh pilu. Mungkin seperti patah hati. Saat itu juga saya merasa telah mengambil langkah yang keliru.

Puncaknya adalah esok harinya. Pada malam hari saya dan kawan-kawan diundang untuk makan malam di rumah seorang warga. Undangan itu sedikit keliru. Tak ada makan malam. Tapi kami terlanjur datang. Kami tetap disuguhkan kopi susu dan kue-kue khas desa itu. Kami menikmati hidangan sambil mengobrol. Juga sambil menonton televisi, hal yang lama tidak kami rasakan. Malam itu kami menunggu berita.

Tentu berita yang dinanti adalah hasil final semalam. Kami mencari-cari berita itu di news ticker di berbagai televisi, hingga akhirnya diketahui bahwa Spanyol yang menjadi juara. Saya lagi-lagi di ambang rasa sedih dan senang sekaligus. Sedih karena Italia gagal di final. Senang karena tak mesti merasakan kekalahan tersebut. Tapi malam itu kami tak mengetahui skor akhir pertandingan. Kami hanya lihat gol David Silva di menit 14 tanpa tahu hasil akhir laga.

Sehari setelahnya saya dikejutkan oleh suatu kabar. Saat sedang membantu warga desa merapikan kuburan salah seorang warga  yang belum lama meninggal, saya diceritakan bahwa Spanyol membantai Italia 4-0 di final. Astaga, empat kosong? Sejujurnya saya sedikit tak percaya mendengarnya. Bagaimana mungkin tim yang identik dengan pertahanan gerendel dilesakkan empat gol di sebuah laga final? Rasanya tak mungkin.

Tapi rupanya cerita itu benar adanya. Italia dihabisi oleh Spanyol di final. Hari-hari berlalu di Desa Paking hingga waktu akhirnya membawa saya kembali ke rumah. Saya telah percaya sepenuhnya tentang skor tersebut. Saya membaca artikel di berbagai majalah dan review final di berbagai blog di internet. Tapi saya belum melihat sama sekali gol-gol di final itu. Juga gol-gol lain di Euro. Biarlah.

Advertisements

2 thoughts on “Post-Euro

  1. Hahaha cerita yang menarik. Anak UI ya ? Boleh tahu KKN dimana kak ? Ciyaaan banget :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s