Nelayan

Siang yang terik di antara Jawa dan Kalimantan, di lautan luas tanpa batas, di dekat daratan yang sudah mulai terekam oleh indera mata, bertemulah saya dengan nelayan-nelayan. Kebanyakan berasal dari Jawa Tengah. Ada yang dari Tegal, Rembang, Pekalongan, dan sebagainya. Mereka menempuh buih ombak dan desau angin untuk menuju biru laut yang kejam demi sepiring nasi untuk keluarga tercinta yang menunggu di dalam rumah-rumah kecil mereka.

Mereka adalah kumpulan yang siang itu diperiksa oleh korps pelaut tentara nasional yang memang ditugaskan untuk melakukan operasi di lautan. Pemeriksaan tersebut terkait kelengkapan surat-surat ijin untuk melakukan pelayaran di lautan nusantara. Saya sedang berada di kapal para tentara laut itu. Kapal bernama KRI Lambung Mangkurat itu bertujuan membawa saya dan puluhan teman lain menuju Malinau, tempat kami melaksanakan kuliah kerja nyata.

Saya memang sedang menumpang. Dan seorang penumpang adalah seorang yang menikmati, demikianlah yang saya percayai. Yang saya nikmati siang itu adalah pelajaran. Pelajaran tentang kehidupan yang diberikan nelayan-nelayan yang diperiksa tersebut yang dengannya saya bertukar kata, bertukar cerita. Tapi saya tak cerita banyak, mereka yang lebih banyak bertutur, lebih banyak cerita, lebih banyak memberi.

Nelayan-nelayan yang oleh salah seorang tentara disebut sebagai pelaut sejati tersebut berkisah sambil berkeluh kesah tentang situasi mereka yang susah. Kelompok terbuang yang mereka akui sendiri menempati strata ekonomi paling rendah di negeri maritim ini. Kelompok yang demi pundi yang tak seberapa mesti berkelana jauh menempuh laut, tersayat matahari, terhujam rindu pada keluarga, dan berteman akrab dengan ketidakpastian yang mematikan.

Mereka pun menasihati kami, termasuk saya, untuk selalu berterima kasih pada orang tua yang membesarkan kami, yang menurut mereka kami beruntung memiliki orang tua yang mampu menyekolahkan kami hingga universitas, tak seperti mereka yang merasa gagal menjadi orang tua yang baik, paling tidak dengan ukuran menyekolahkan anak setinggi-tingginya.

Terlepas dari perasaan mereka yang seolah gagal menjadi ayah yang baik dan suami yang sempurna, mereka tetaplah hebat. Menerjang samudra bukanlah pekerjaan yang mudah. Menepiskan kerinduan bukanlah tugas yang ringan. Dan bertaruh nyawa juga bukan sesuatu yang secara praktis mudah dilaksanakan.

 

Laut sulawesi, dua puluh dua juni dua ribu dua belas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s