Kamar Gelap

Daftar putar mengisi telinga dengan lantunan lagu milik Efek Rumah Kaca, band yang fenomenal itu, yang disebut indie, tapi entah apakah benar-benar independen. Lagu yang berputar di telinga itu bertitel Kamar Gelap, sama dengan judul album mereka. Kebetulan atau tidak saya mendengarnya di kamar yang gelap, di rumah panggung, di desa yang terletak di tengah hutan Kalimantan yang lebat, di tepian sungai Mentarang yang kabarnya tersebut di film Anaconda 3.

Saya sedang tenggelam dalam segala kegelapan itu. Merutuki nasib yang ditunjuk oleh tangan sendiri atas pilihan membuang diri pada kuliah kerja di daerah perbatasan, juga untuk kegemaran melihat masyarakat yang asing. Saya sedang sangat rindu pada rumah, pada ibu, pada nenek yang diingatkan oleh induk semang, pada kakak adik, pada teman sekampus, pada kota, pada peradaban, pada McDonald, pada sepakbola, pada kamar saya, pada AC yang berisik yang setia menemani tiap tidur malam saya, pada teras rumah, pada Twitter, pada sinyal handphone, pada apapun yang tak ada di desa ini.

Kadang perasaan seperti ini membuat saya bertanya dalam hati, apa arti semua ini? Adakah ia benar bermakna atau sekedar mimpi buruk yang  numpang lewat dan niresensi? Pada akhrinya saya melambai tangan dan menyerah, membiarkan waktu untuk menuliskan jawabannya pada dindingnya di masa depan, pada esok hari, pada bulan depan, pada tahun depan. Dan karena saya memaknai kuliah kerja ini sebagai perjalanan, saya harus baik-baik mengingat pesan Lin Yuntang bahwa kita takkan pernah tahu nikmatnya melakukan perjalanan sebelum kita sampai ke rumah dan menadahkan kepala di bantal kesayangan kita di kamar tercinta. Jadi saya memang harus menunggu.

Setidaknya dua minggu lagi saya akan bebas dari desa yang senyap ini, menuju modenitas nan agung itu lagi. Sambil menantikan waktu itu tiba biarlah Tuhan dan semesta menunjukkan arahnya bagi kehidupan ini, pada tubuh yang malas ini untuk bergerak mengisi kalender yang hari demi hari terasa berjalan merambat begitu lambat.

 

Paking, delapan juli dua ribu dua belas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s