Pippo

Sepakbola adalah anugrah. Karena ia adalah anugrah, sudah sepatutnya saya berterima kasih pada dua orang. Kedua orang itu mengenalkan saya pada anugrah tersebut. Orang pertama adalah ayah saya. Ia mengenalkan saya pada sepakbola dengan membelikan saya sepotong kaus sepakbola di suatu siang di pusat perbelanjaan di kota tempat tinggal kami. Ia pun yang menemani saya untuk pertama kalinya menikmati pertandingan sepakbola di layar kaca.

Orang kedua adalah orang yang tak pernah saya sentuh. Tapi ia menyentuh hidup saya dan mengubahnya menjadi berbeda. Entah bagaimana jika ia tak ada, akan samakah kehidupan ini? Ia hidup di benua biru, di selatan, di Italia. Pria itu bernama Filippo Inzaghi. Publik sedunia lalu sepakat menjulukinya dengan sebutan Pippo. Bagaimana caranya ia mengenalkan saya pada sepakbola? Melalui kaus sepakbola yang dibelikan ayah saya.

Kaus itu bercorak garis-garis hitam dan putih, dengan logo klub dan beberapa tulisan sponsor klub. Di belakang kaus itu tertera nomor sembilan dengan tulisan nama Inzaghi di atasnya. Saat itu saya hanya anak kecil polos yang tak tau apa-apa. Saya hanya menerima kaus itu dan larut dalam suruhan tangan takdir. Saat itu saya serasa ditakdirkan untuk memilih Juventus sebagai klub pujaan dan Inzaghi sebagai pemain paling dikagumi.

Takdir yang saya terima adalah sesuatu yang tak pernah saya sesali. Bahkan saat Inzaghi hijrah ke Milan semusim setelah kausnya saya pakai untuk pertama kalinya. Ia tinggal di kota mode itu sebelas tahun lamanya. Disana, di klub rival Juventus itu, ia hampir meraih segalanya, termasuk Piala Dunia. Ia hanya gagal meraih Piala Henri Delaunay. Ia juga sempat bercokol sebagai top skor Liga Champions Eropa. Ia benar-benar menaklukan dunia.

Tapi seorang yang perkasa pun tetap bertambah tua. Dan bertambah tua berarti waktu untuk berhenti kian mendekat. Termasuk bagi Pippo. Akhir musim ini ia sepakat untuk meninggalkan Milan, meski belum mau pensiun dari sepakbola. Ia membuat sebuah gol emosional di laga terakhirnya untuk Milan. Oh Tuhan, bahkan di ujung hidupnya di Milan ia tetap mencetak gol. Dan gol itu adalah penanda bahwa ia begitu spesial.

Gol tersebut bisa disebut sangat khas Inzaghi, tipikal gol yang biasa ia lakukan. Memanfaat kepandaiannya mencari posisi dan dengan sekali dua sentuh sanggup mengoyak jala lawan. Dalam beberapa kali obrolan di meja kantin dengan kawan kampus, kami sepakat bahwa Inzaghi adalah satu-satunya striker hebat dunia yang tak punya kemampuan lain selain mencetak gol. Karena itulah ia begitu istimewa.

Keistimewaannya mungkin akan berakhir satu atau dua tahun lagi. Kita akan kehilangan sosok pencetak gol ulung. Takkan ada lagi striker di dunia yang sanggup menirunya. Inzaghi adalah satu-satunya di dunia. Mungkin butuh seribu tahun lagi untuk melihat pemain sepertinya. Tapi sebelum masa itu tiba, ada baiknya kita berharap Super Pippo menemukan labuhan yang tepat, tempat ia mencetak gol-gol yang hanya bisa diciptakan oleh dirinya.

Advertisements

One thought on “Pippo

  1. […] Seedorf dan Pippo Inzaghi. Nama pertama saya tidak peduli. Nama kedua yang membuat saya semringah. Pippo berarti spesial bagi saya. Jadi membayangkan dia menjadi pelatih adalah sebuah romantisme tersendiri. Seperti halnya cerita […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s