Tentang Telepon Genggam yang Menggenggam Seisi Kehidupan

Suatu malam di sebuah kereta listrik yang cukup sesak, saya berdiri bertumpu pada kedua kaki, dengan kepala menempel pada pintu kereta, mencoba memejam mata, mengusir waktu yang terasa begitu lama di dalam kereta. Itu tak lama. Lelah dalam posisi seperti itu, saya pun berdiri saja sambil mengamati kerlip lampu di luar jendela yang samar. Saya pun mengamati sekitar, menikmati suasana, meresapi manusia.

Tak hanya saya yang berdiri di kereta itu. Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang lain berdiri sama seperti saya. Termasuk barisan orang di sebelah kiri, di belakang saya, semua mengarah ke jendela. Mereka terdiri dari kurang lebih sepuluh orang yang berdiri berhimpitan bersebelahan. Ada laki-laki, ada perempuan. Mereka semua sama dalam satu hal: kepala menunduk menatap cermat layar ajaib dalam genggaman tangan masing-masing.

Setelah mata saya mengelilingi gerbong saya berada, ternyata tak hanya barisan orang-orang tersebut yang kepalanya tertunduk dan sibuk dengan sesuatu di tangannya. Hampir semua membentuk konfigurasi tubuh yang seragam, meski dengan muka dan pakaian yang beragam. Saya adalah salah satu dari sedikit yang tidak menghadapkan kepala ke bawah, kepada sesuatu yang ajaib, sesuatu yang dianggap modern, sesuatu yang mungkin lebih sakral dari Tuhan.

Kereta rupanya tetap berjalan seraya saya merenungi manusia. Ia lalu berhenti di suatu batas waktu, menurunkan saya dan beberapa orang lain di stasiun yang tak lagi asing. Saya dan dua orang teman berjalan menembus hutan, menembus malam, menuju kampus tercinta tempat siksaan mendera. Hanya sebentar di lingkungan kampus, kaki saya lalu bergerak menuju mobil. Saya kendarai mobil itu, menibakannya di tempat cucian mobil 24 jam.

Saya menunggu mobil itu dicuci hingga bersih dan mengkilap seperti kerlip bintang. Sambil menikmati teh botol dingin saya memperhatikan mobil saya yang sedang dicuci, saya juga memperhatikan mereka yang mencucinya, saya juga memperhatikan mobil-mobil lain yang dicuci di sebelah mobil saya, saya juga memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu sama seperti saya.

Saya melihat sebuah pola yang sama persis dengan apa yang saya lihat di dalam kereta. Di sebelah kanan saya tiga orang sedang duduk sendirian menanti mobil masing-masing, kepalanya menunduk, fokus pada benda yang benderang, yang membuat mereka serasa tak sendiri, yang memungkinkan mereka bicara tanpa membuka mulut, yang mereka genggam dengan erat, seakan enggan mereka lepas sedetikpun. Sesuatu itu mungkin lebih ajaib dari voodoo.

Saya kembali sama sekali tak menggenggam apa-apa. Tangan saya bebas seperti sayap kupu-kupu, paling sesekali menggenggam bibir botol. Saya juga memiliki benda yang ajaib, benda yang sakral, benda yang menerangi tadi. Tapi saya menyelipkannya dalam kantung celana, membiarkannya diam, lebih diam dari mayat yang kaku membujur. Saya tak begitu silau pada sinarnya, tak begitu kagum pada maginya, tak begitu ingin menggenggamnya setiap waktu.

Sesuatu tadi bahkan membuat saya menyimpan sebuah cita-cita yang tak biasa. Saya ingin hidup tanpanya. Saya ingin membuangnya di suatu samudera yang lautnya tak berdasar, membiarkannya tenggelam hingga kedalaman yang tak terkira, melepaskannya seperti anak kecil masa bodo yang membiarkan layang-layangnya lepas dirampas angin jahat. Saya tak ingin menggenggamnya lagi, pada suatu waktu, bukan saat ini memang.

Sesuatu itu awalnya memang kita genggam, kawan, tapi sadarkah ia perlahan sedang menggenggam seluruh hidup kita, membiarkan kita terkungkung dalam genggamannya, membuat kita menjadi tak lebih mulia darinya, mencuri kenikmatan lain serupa indahnya udara bebas yang kita hirup tiap harinya, mencuci otak kita dengan mimpi dan fantasi dan imajinasi yang semu, palsu, penuh dusta, dan sementara. Seperti kata Tyler Durden dalam Fight Club: the things you own end up owning you.

Akhirnya kita dan sesuatu itu saling menggenggam.

 

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s