Budaya Massa dan Masa Kecil yang Kembali

Suatu pagi di kelas yang dingin di penjara paling baik di negeri ini, otak saya kembali disesaki kata baru. Kata hasil pemikiran orang-orang neo marxis (kalau tidak salah), mass culture. Saya sendiri tak paham dengan jelas mengenai konsep itu. Secara sederhana saya hanya menangkapnya sebagai budaya ikut-ikutan. Entah tepat atau tidak, siapa peduli. Saya lalu melihat sekitar mencoba menemukan padanan konsep itu dalam realita sebenarnya. Saya juga mengaca.

Saya jadi ingat soal perkembangan dunia traveling di negeri ini. Traveling kini telah menjadi tren yang menghebohkan seiring tumbuh pesatnya penggunaan media massa dan media sosial. Tentu tak hanya internet dan televisi, beberapa variabel lain tentu mempengaruhi juga. Tren tersebut membuat orang-orang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dengan berbagai gaya yang berbeda, mulai dari yang turistik hingga yang ala backpacker.

Sebagai sebuah arus gaya hidup yang berkembang cepat dan massal, traveling mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Benarkah orang-orang itu benar-benar ingin melakukan traveling? Atau sekedar terseret arus budaya massa, sekedar ikut-ikutan mengkonsumsi tren itu agar terlihat keren? Mengertikah mereka esensi dari kegiatan yang mereka lakukan itu? Atau sekali lagi hanya terjebak pada keharusan untuk mengkonsumsi gaya hidup itu?

Tiap orang tentu punya jawaban yang beragam atas rentetan pertanyaan diatas. Saya tak tahu pasti dan tak mau mengira-ngira jawaban orang-orang. Lebih baik saya menengok cermin. Saya kemudian melihat sosok diri sendiri sebagai orang yang melakukan traveling belakangan ini. Terhitung sejak tiga tahun lalu saya mulai melakukan perjalanan seorang diri dan kemudian terpikat candu menjadi traveler yang menikmati tempat-tempat asing.

Saya lalu mempertanyakan pada diri sendiri hakikat dari traveling yang saja jalani. Mengertikah saya pada esensinya? Atau jangan-jangan saya juga terjebak pada arus budaya massa itu? Dengan gemetar saya bisa memastikan bahwa ketika mulai menyukai jalan-jalan, traveling belum jadi hits seperti saat ini. Saya memilih hobi ini murni karena pengalaman pertama yang membikin saya ketagihan, bukan karena seruan kicau orang-orang di dunia kacau itu.

Tapi saya mulai ragu ketika merenungi bahwa mungkin saja berkembangnya hobi traveling pada diri ini dipengaruhi oleh media sosial, majalah, maupun hal-hal lain yang bisa mengaburkan kesadaran dan membuat orang menjalani konsumsi tanpa mengerti esensi. Untunglah saya membiasakan diri untuk mengerti esensi dari sesuatu yang saya lakukan atau sukai. Meski mungkin esensi itu tak utuh sempurna, paling tidak saya tak pasrah jadi wayang yang dungu.

Tapi perenungan akan esensi itu tak pernah usai. Saya tetap mempertanyakan. Yang paling dahulu tentu mengapa saya menyukai jalan ke tempat yang tak pernah dilihat sebelumnya, melihat orang dengan mulut mengucap bahasa yang unik, dan tersesat dalam kesenangan yang aneh itu dalam situasi seorang diri atau kadang berdua bersama seorang teman. Saya justru menemukan jawaban yang agak membuat saya tercengang.

Saya terbawa ingatan tentang anak kecil yang bersama adik perempuan dan beberapa teman di dekat rumahnya senang berjalan maupun bersepeda keliling komplek dan terkadang keluar. Anak kecil itu memimpin rombongan yang  lebih muda darinya menapaki hutan-hutan kecil di dekat komplek, atau pekarangan luas penuh ilalang yang terletak di dekat tempat pembuangan sampah komplek. Anak kecil itu adalah saya.

Secara sporadik saya lalu berkesimpulan bahwa kecintaan pada traveling belakangan ini adalah wujud pengembalian kehidupan masa kecil saya. Masa kecil itu menarik saya ke dalam putarannya lagi. Meski dalam tubuh pemuda yang sedang dipecut kehidupan akademis nan menyiksa, saya jadi anak kecil lagi. Anak kecil yang suka bertualang melihat tempat indah yang terasa asing, merasakan nikmatnya menjadi pengembara yang tersesat.

Saya jadi semakin yakin bukan budaya massalah variabel utama yang menyeret saya bermimpi berkelana ke berbagai tempat. Meski tak dapat dipungkiri bahwa televisi, internet, dan buku perjalanan merupakan pemantik yang baik bagi api jiwa pejalan yang kadang redup ini. Api itu telah ada sebelumnya sejak masa anak-anak, tetap ada meski kadang padam, dan kini api itu menyala deras. Entah kapan akan meredup. Apalagi padam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s