Sabtu Malam

Kemarin kalau tidak salah saya menulis tentang memori, khususnya memori soal perjalanan yang kadang menyembul begitu saja keluar kepala. Tak sampai dua puluh empat jam kemudian saya kembali dihibur oleh fantasi dari masa lalu, dari cerita perjalanan terdahulu. Yang merangsang kali ini adalah waktu. Waktu yang dinamai sebagai sabtu malam, atau lebih terkenal sebagai malam minggu.

Saya sedang terbaring di kegelapan kamar, mencoba rehat sejenak sebelum el clasico, tapi gagal. Pikiran melayang-layang tentang apa saja, termasuk soal proyek penelitian kualitatif yang hari demi hari makin memusingkan kepala. Saya lalu bangkit menyadari tak bisa tidur lagi setelah siang tadi cukup lama terlelap terbuai hujan di luar jendela. Saat bangkit dari kasur saya ingat momen di Surya Kencana persis seminggu yang lalu.

Sabtu malam pekan kemarin rasanya saya bersama dua orang teman seangkatan sedang dibantai dinginnya udara lembah gunung yang sedang hujan deras pula. Tenda kami bertiga basah oleh banjir kecil yang cukup untuk mengusir kenyamanan tidur enak di atas gunung. Sleeping bag basah, celana basah, kaos kaki basah, tenda basah, semua basah. Untungnya, saya yang tak peduli dan coba menikmati nasib dapat tidur cukup nyenyak meski basah sekujur tubuh.

Ingatan malam itu lalu menguap begitu saja. Saya kembali ke depan laptop, mencoba membunuh waktu. Saat di depan laptop sambil menikmati alunan reggae dan main solitaire itulah satu memori perjalanan kembali menyeruak keluar. Kali ini bukan kejadian minggu lalu di Gunung Gede. Tapi momen lebih dari dua bulan yang lalu di kota asing, di Indonesia Timur. Kisah ini juga terjadi si sabtu malam, alias malam minggu.

Saya beserta dua orang teman baru saja masuk hotel murah tempat kami menghabiskan minggu terakhir di Ambon. Tak sempat sejam di dalam kamar yang kami bagi bertiga, kami lalu bergegas lagi keluar. Berjalanlah kami memecah kelam malam di kota itu, kami lalu sampai di kawasan pantai Mardika, yang juga tempat terminal bernama sama. Malam itu di Mardika ramai sesak oleh kerumunan orang yang sedang menikmati ritual malam minggunya. Termasuk kami.

Tapi kami sedang tidak menjalankan ritual. Kami hanya berjalan tanpa tujuan di malam di kota asing. Dua orang teman saya itu lalu lapar dan setelah berkeliling mencari tempat makan tibalah kami di warung coto makassar. Saya tidak makan, entah karena apa, saya lupa, mungkin memang sedang tidak lapar. Saya diam saja menunggu kedua teman selesai makan sambil mengamati sekitar, menikmati malam minggu di tempat yang jauh dari rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s