Memori

Katanya otak semacam tumpukan rak yang disusun dari bawah ke atas. Yang disusun itu adalah ingatan. Ingatan saya tentu sudah bertumpuk entah setinggi apa, langit mungkin, atau paling tidak langit-langit. Tumpukan itu sepertinya rapi dan diberi label yang canggih sehingga mudah diketemukan apabila dibutuhkan. Tapi tumpukan memori itu ada juga yang serabutan dan tak karuan. Ada yang tersempal di sudut yang tak jelas, tapi tiba-tiba mencuat ke udara ketika dirangsang.

Yang merangsang itu bisa macam-macam. Suasana, suara, warna, rasa, aksara, persona, panorama, apa saja. Yang dirangsang itu adalah memori tentang perjalanan. Ah memori perjalanan saya masih sedikit menghiasi rak tinggi besar itu. Ia hanya sedikit goresan tanpa arti. Tapi tetap, belakangan ia begitu liarnya. Menyentak keluar kepala mencoba teriak, mencoba untuk menyuruh saya kasar mengingat-ingat. Tentang sesuatu, tentang perjalanan. Perjalanan di masa lalu.

Ya kadang di suatu waktu ingatan tentang sebuah perjalanan di masa lampau menyembul ke atas kepala. Apabila itu terjadi angan saya terbang ke kalender yang sudah dibalik. Menuju waktu yang telah berlalu di belakang. Ingatan dan angan itu bahkan tak sekedar gambaran umum, kadang ia pemandangan atau perasaan yang detail pada saat saya sedang melakukan perjalanan. Saya tak tahu apa yang terjadi. Mungkin sudah gila. Atau terlalu peka pada cinta. Cinta pada perjalanan.

Misalnya suatu waktu angan saya menuju momen disaat saya sedang menikmati kopi toraja di Batutumonga. Di waktu lain ia membawa saya mencapai timur Indonesia saat saya bersama tiga orang kawan berjalan kaki cukup lelah setelah menikmati pantai Pintu Kota. Lalu ia juga menempatkan saya sedang duduk di bus di siang menjelang sore yang hujan saat sedang menuju Jogja dari Semarang. Atau suatu saat angan yang liar itu juga menaruh saya di pagi yang masih muda di Mataram.

Ingatan, memori, atau angan itu mencuat begitu saja. Secara acak tanpa aturan, tanpa perintah, tanpa kawalan. Ia lepas dari kerangkeng pikiran yang sesak dipenuhi kata-kata baru yang dipaksa masuk oleh sekolah. Ia berontak dari kediamannya dan mencoba melarikan diri dari dalam kepala saya. Mungkin ia ingin menunjukkan sesuatu. Mungkin ia cerminan dari hati saya yang resah. Mungkin ia bosan tinggal dalam rutinitas yang memabukkan. Ia menyuruh saya berjalan lagi. Dan menambah sesak rak memori.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s