Kotak

Kita manusia terlalu suka pada kotak-kotak. Merangkai kotak, memberinya tempelan di luar bertuliskan kata hasil pikiran sendiri. Kotak itu tak hanya satu, ia begitu banyaknya, saking banyaknya manusia terjebak dalam kotak-kotak yang dibuatnya. Terpenjaralah ia selamanya dalam kotak. Juga dalam kebiasaan tanpa henti untuk membikin kotak dan menaruh label pada kotak itu. Awalnya kita memenjara hal-hal dalam kata, pada akhirnya kitalah yang dipenjara oleh kata. Yang kita bikin sendiri.

Saya sedang tak jelas meracau apa. Seperti biasa. Ampuni. Seperti biasa pula. Saya mungkin sedang pusing. Pusing dan bingung tentang suatu kotak yang mengusik pikiran. Kotak itu dinamai sebagai backpacking. Kotak yang bagi saya sangat liar sehingga tiap orang mampu membentuk definisinya sendiri tentang kotak itu. Seorang pejalan yang dengannya saya bertukar surel menyebut bahwa mengartikan backpacking tak beda jauh dengan memaknai cinta. Begitu sulit, begitu rumit.

Selain liar, kotak itu begitu lucu. Satu sisi saya tak merasa bagian darinya, saya tak termasuk di dalam kotak itu. Saya bebas dari kotak itu. Bukan karena saya tak ingin, tapi memasuki kotak itu bagi saya sama memasuki tempat yang keramat. Tak sembarang orang bisa memasukinya. Saya hanya merasa belum pantas. Tapi di sisi lain, saya marah. Marah memerah saat orang yang bagi saya tak pantas masuk kotak itu justru dengan santai dan tololnya merasa bagian dari kotak yang suci itu.

Anggaplah saya terlalu pengecut sehingga tulisan ini dibuat sedemikian rupa dengan tata bahasa yang tak langsung mengarah. Anggap pulalah saya sok puitik sehingga menuliskan hal yang bisa diteriaki secara gamblang saja perlu kalimat yang tak eksplisit. Tapi anggapan-anggapan itu takkan membuat saya mengerti tentang apa arti sebenarnya kotak itu. Ia makanan macam apa sehingga saya merasa tak pantas masuk, padahal orang lain yang tak lebih pantas dari saya justru melenggang dengan gontai santai.

Saya lalu setuju dengan opini salah seorang pejalan yang mengibaratkan backpacking dengan cinta. Cinta begitu misterius, begitu pula backpacking. Cinta begitu membutakan, begitu juga backpacking. Jadi mungkin saya tak perlu bertanya-tanya lagi tentang arti kotak itu. Atau kotak-kotak lain yang terlanjur memenuhi kehidupan yang sudah semrawut ini. Anggap saja saya lepas dari kotak-kotak itu, lepas pula dari tabiat membikin kotak, menaruh label, membuat kategori. Ah mana bisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s