Mati Muda

Tulisan tentang kematian Pierpaolo Morosini masih saja ramai dimana-mana. Sang pemain yang meninggal dunia saat sedang bertanding itu sudah dikebumikan kemarin di Bergamo, tempat kelahirannya. Mengingat kematiannya saya sekaligus mengingat kematian italiano lainnya, Marco Simoncelli. Saya meresapi kematian kedua pemuda itu sebagai contoh kematian yang sempurna.

Titus Maccius Plautus pernah menuliskan kalimat “he whom the gods love dies young”, sementara itu kitab Bhagavad Gita menyertakan ayat yang kurang lebih berbunyi “tak ada kematian yang lebih baik dari kematian di jalan kehidupan.” Berdasarkan itu, Morosini dan Simoncelli sangat beruntung. Mati muda saja sudah baik, apalagi mati saat sedang melakukan apa yang dicintai. Tak ada yang lebih baik dari kombinasi semacam itu.

Perihal mati muda, saya jadi berpikir sesuatu. Banyak tokoh panutan dan pujaan saya yang hidupnya tak lama. Mereka bernafas hanya sebentar di dunia, tapi hebatnya itu cukup untuk membuatnya melekat pada hati banyak orang. Sebut saja yang pertama adalah Yesus. Saat disalibkan Ia dikisahkan berusia sekitar 33 tahun. Sebagai seorang Kristen saya mungkin tak terlalu taat, tapi saya tetap tersentuh oleh kasihNya yang tak terbayarkan itu.

Kemudian seorang pria asal Jamaika, Robert Nesta Marley. Ia dikenal dunia sebagai Bob Marley. Si pengusung genre musik reggae yang berambut gimbal dan menghisap ganja. Ia meninggal pada usia 36 tahun karena penyakit kanker jempol kaki yang didapatnya karena bermain bola. Kakinya disarankan diamputasi tapi ia menolak dengan alasan hal tersebut melanggar ajaran rastafarinya.

Chris McCandless yang mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp mati di usia 24 tahun. Pria cerdas ini mati di tengah cita-citanya hidup dalam model kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Ia terbujur kaku dalam kebekuan alam liar Alaska karena memakan biji-bijian beracun. Jika ditanya siapakah petualang favorit dan inspirasi saya, saya takkan berpikir dua kali untuk menyebut namanya.

Ernesto Che Guevara juga mati pada usia yang relatif muda bagi saya, 39 tahun. Ia mati ditembak di Bolivia oleh regu penembak yang menjalankan hukuman matinya. Si revolusioner sebelum ditembak mengucap kalimatnya yang cukup populer “I know you are here to kill me. Shoot, coward, you are only going to kill a man.” Che yang hebat itu juga mengagumkan saya oleh petualangan mengelilingi Amerika Latin dengan motor bersama sahabatnya Alberto Granado.

Chairil Anwar mungkin nama terakhir yang akan saya sebut. Si binatang jalang meninggal pada usia 26 tahun. Banyak yang menyebut bahwa TBC kronis dan sipilis yang menyebabkan kematiannya. Hidupnya yang penuh pemberontakan dan sajak-sajaknya yang abadi jelas tergores pada sejarah sastra Indonesia. Puisi-puisinya banyak yang melukiskan tentang kematian. Saya yakin ia juga orang yang tak terlalu suka hidup. Mungkin.

Mereka semua idola saya, baik dalam skala fanatik maupun biasa saja. Mereka semua mati muda. Entah itu kebetulan atau tidak. Saya pun lupa apakah saya orang yang percaya kebetulan atau tidak, sungguh. Tapi yang jelas kehidupan dan kematian mereka memberi arti pada hidup saya. Selanjutnya saya berharap Tuhan yang baik hati itu menyayangi saya juga, seperti ia menyayangi Morosini, Simoncelli, Yesus, Marley, McCandless, Che, dan Chairil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s