Tragik

Saya sedang duduk di dalam bus dari Cipanas menuju Jakarta setelah sebelumnya menikmati keganasan dan keteduhan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebuah kabar lalu datang tentang kematian salah satu dosen di semester dua. Dosen perempuan yang sudah sangat tua dan sejatinya sudah melewati masa pensiun. Dosen yang disiplin tapi tak terlalu disukai oleh banyak mahasiswa, termasuk saya. Dosen yang ketika melihatnya mengingatkan saya pada nenek saya di rumah.

Kemudian setelah tiba di rumah menjelang tengah malam, saya langsung mengecek hasil pertandingan Juve di internet. Saya tak mendapati apapun. Rupanya seluruh pertandingan Liga Italia pekan tersebut ditunda karena insiden tragis yang menimpa salah seorang pemain Livorno, klub Serie B. Pierpaolo Morosini meninggal setelah kolaps akibat serangan jantung di atas lapangan dalam pertandingan melawan Pescara. Nyawanya tak tertolong meski sempat berusaha dilarikan ke rumah sakit.

Saya lalu lelap karena lelah. Esok hari kedua kisah kematian di atas mewarnai hari saya. Saya baru tahu dosen saya itu rupanya meninggal karena dibunuh. Saya agak syok. Hampir tak percaya. Berusaha menanyakan ke beberapa orang agar percaya. Selanjutnya cerita-cerita singkat mengalir tentang sosoknya dan kematiannya. Saya selalu punya perasaan yang unik tatkala mendengar berita kematian orang, baik yang dikenal maupun tidak. Perasaan tanpa nama itu menyelimuti saya.

Sore hari, setelah pulang kuliah, saya mengunjungi situs fans Juve di Indonesia. Sekedar membukanya karena kebiasaan. Saya lalu mendapati artikel tentang Morosini, pebola tragis yang mati di lapangan tersebut. Ia rupanya pria yang punya riwayat kehidupan keluarga yang memilukan. Ibunya meninggal saat ia berusia 15 tahun. Ayahnya menyusul dua tahun berselang. Lalu saudara laki-lakinya mati bunuh diri setahun kemudian. Ia tinggal berdua dengan kakak perempuannya yang cacat. Kini ia meninggalkan kakak perempuannya.

Saya tak tahu sedang merenungi apa. Kedua kabar kematian itu datang hampir berbarengan. Kedua berita menyisipkan bagian tragisnya masing-masing. Satu mati dibunuh dengan kejam. Satu punya sejarah pilu tentang kematian orang-orang yang dicintanya, meski ia mati di jalan kehidupannya. Saya hanya bisa mendoakan dari jauh semoga kematian adalah pembebasan bagi mereka berdua. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan damai dan keikhlasan. Selamat jalan kalian, titip salam buat maut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s