Pelarian

Tak ada yang lebih baik dari menjadi diri sendiri. Sayang itu sulit untuk dilakukan sempurna. Kita terpenjara dalam sistem yang membuat kita jadi semacam boneka panggung yang bergerak oleh arahan. Kita bersandiwara. Bahkan terlalu sering hingga kita lupa membedakan mana saat untuk berdrama, mana saat untuk jadi telanjang, murni. Dalam keterpaksaan yang mulai fasih dimainkan, kita sejatinya perlahan menjadi badut permanen.

Sebegitu lengketnya peran yang kita mainkan hingga di saat sendiripun kadang kita tetap jadi orang lain. Tak ada waktu sama sekali untuk memerankan diri yang sebenarnya. Perlahan ia mati, ditelan waktu, ditelan bosan menunggu tuannya kembali. Seiring matinya diri sendiri, apa yang sisa dari kita? Hanya seonggok daging bernama yang berjalan sesuai tombol remote control yang entah ada di tangan siapa.

Tapi itu semua bukan suatu yang abadi, ia bisa juga dihentikan. Sesiapnya kita saja untuk membuang gincu itu dan berbalik menemui diri sendiri yang telah jadi usang  terpojok di suatu sudut yang gelap dan sunyi. Alkisah ada seorang bernama Chris McCandless yang eksentrik itu. Lewat kematian dan petualangan yang tragis ia terkenal ke seluruh dunia lewat goresan buku dan adegan film. Ia jadi abadi.

Chris anak yang pintar dari keluarga yang kaya raya. Ia lulus cumlaude dan sanggup masuk Harvard, penjara paling baik di dunia. Masa depan cerah menunggunya di ujung waktu. Ia hanya perlu berjalan gontai dan meraihnya. Tapi ia menolak bentuk kepastian semacam itu dan lari mencari apa yang tak diketahui. Ia menjauh dari masyarakat yang membentuknya. Seorang diri ia berkelana, lalu menemukan dirinya sendiri, seutuhnya. Polos dan tanpa nama.

Menemui kehidupan baru yang asing sebagai diri sendiri yang terasa seperti orang lain, ia mengganti nama menjadi Alexander Supertramp. Ia buang pula segala atribut yang melekat pada dirinya yang dulu. Ia menjadi baru. Terlepas ia dari tetek-bengek aturan norma dan nilai yang mengekang. Bebas pula ia dari tanggung jawab peran sosial yang selama ini menjauhkan dirinya dari diri sendiri. Ia merdeka. Merdeka dari kemunafikan dan omong kosong ciptaan masyarakat.

Demikian ia juga meninggalkan jaman yang sedang berkembang di belakangnya. Anehnya ia menuju ke tengah alam yang sunyi sepi dan tak ada apapun. Ia hidup dalam alam bebas yang murni, tak ada industri, tak ada uang, tak ada telepon, tak ada gemerlap masa depan. Ia tinggal dalam kekelaman alam raya yang luas, yang tak terkira luasnya hingga ia tersesat. Tersesat dalam kesesatan yang dibuatnya sendiri, yang diinginkannya.

Pada akhirnya ia mati juga. Mati dalam kesepian yang mendekap bagai cahaya bulan memeluk langit malam. Sayangnya ia mati dalam keraguan. Ia sempat ingin kembali ke peradaban, tapi gagal. Seperti Sidharta, ia juga setuju bahwa bahagia hanya nyata jika dibagi. Ia pun menulis nama lamanya dalam sepucuk kertas perpisahan yang ia taruh dekat mayatnya yang membusuk. Adakah ia keliru melarikan diri dari masyarakat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s