Albert dan Friedrich

Waktu membawa saya menemui seorang bernama Albert. Dia muncul dan bicara tentang persoalan paling hakiki dalam filsafat menurutnya. Baginya persoalan tersebut adalah “mengapa manusia tidak bunuh diri?” Orang tersebut kelahiran Algeria dan telah meninggal di Prancis 52 tahun yang lalu. Albert terkenal sebagai filsuf eksistensialis yang tak mau disebut eksistensialis. Ia menuliskan naskah terkenal berjudul L’Etranger. Nama belakangnya Camus.

Saya lalu merenungi pertanyaannya. Ada benarnya juga. Kenapa manusia tak bunuh diri? Padahal hidup tak lebih indah dari mati. Beban hidup dan kefanaan hidup seharusnya menjadikan orang tak perlu ragu untuk bunuh diri, menyelesaikan hidup secepatnya, supaya tak lebih sia-sia dari detik ini. Ah, tapi perkara bunuh diri tak semudah itu rupanya. Saya mau mati muda, tapi tetap tak mau bunuh diri. Kenapa?

Saya termenung lama, cukup lama sampai seorang pria tua berkumis panjang menegur, lalu berfilosofi. Ia bicara panjang lebar, lalu sampai pada kalimat “kita mencintai kehidupan bukan sebab kita sudah biasa hidup, tapi karena kita biasa mencintai.”  Pria tua tersebut asal Jerman, wataknya kadang dianggap gila, dan masyhur karena kisahnya tentang seorang nabi dari Persia bernama Zarathustra. Pria itu dikenal dunia sebagai Friedrich Nietzsche.

Kalimatnya yang saya kutip mendekam beberapa waktu lamanya dalam pikiran saya. Sampai kemudian saya memikirkan pertanyaan Albert kembali, saya baru sadar bahwa frasa yang dilontarkan Friedrich mungkin bisa jadi jawaban. Mungkin bukan jawaban final yang pasti, sebutlah semacam hipotesis. Seakan alam semesta mempertemukan saya dengan kedua pria mati tersebut untuk sebuah pesan. Untuk sebuah nasihat. Untuk sebuah omong kosong lagi.

Ya, mungkin Friedrich ada benarnya juga. Kita mencintai kehidupan, oleh karenanya kita tak bunuh diri dan mati. Tapi kecintaan kita pada hidup bukanlah karena kita sudah biasa hidup, tapi karena kita biasa mencintai. Kita terbiasa untuk menaruh cinta kasih pada apa yang ada di sekitar kita, termasuk kehidupan itu sendiri. Jadi dengan terbiasa mencintai hidup, kita tak punya daya untuk bunuh diri. Paling tidak sampai kita terbiasa mencintai kematian.

Tapi mencintai kematian itu sulit. Begitu sulitnya hingga bunuh diri bukan pilihan. Begitu sulit karena kita tak tahu seperti apa wujud kematian itu, warnanya, wanginya, suaranya. Kita tak tahu apakah ia harum atau busuk, tak tahu hitam atau putih, tak tahu merdu atau sumbang. Beda halnya dengan hidup. Kita sudah jelas tahu bahwa hidup itu “bukan seperti kembang setaman yang cerah dan lembut, tapi hutan rimba yang oleh orang sopan disebut brutal.”

Kita mengenal hidup sejak air mata tumpah tiap hari dalam wujud bayi kecil. Kita belajar hidup sembari belajar merangkak dan berjalan dengan kaki sendiri. Kita tetap belajar ketika tangan mulai mencari uang untuk diri sendiri. Dan takkan pernah berhenti belajar tentang kehidupan bahkan sampai rambut memutih dan ajal sudah di ujung pintu. Kita begitu mengenalnya, lalu mencintainya, lalu tak tega membunuhnya.

Camus ketika menanyakan hal tersebut mungkin tak berharap ada yang menjawab. Ia sadar bahwa saking hakikinya pertanyaannya tak butuh jawaban lagi. Ia mungkin mencari terus jawabannya dan tak kunjung menemu sampai mati mendekap. Demikian juga Nietzsche yang hidup lebih dulu jelas tak berniat menjawab persoalan Camus. Ia hanya menuliskannya di bab Tentang Membaca dan Menulis dalam Also Sprach Zarathustra. Lalu apa arti tulisan ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s