Malang

Suatu malam, di sudut lampu merah yang tak asing, di kota yang sejak kecil dihuni, saya membelokkan mobil berusia tiga puluh tahun menuju ke arah jalan layang, menuju rumah. Saat berbelok, saya melihat seorang anak gadis kecil di pembatas jalan, ia sedang merapikan uang-uang lecek dengan sedikit tergesa. Wajahnya lusuh, tampak lelah, mungkin seharian sudah ia menjejali rasa iba di perasaan orang-orang yang melintasi lampu merah itu.

Saya jadi ingat ayah saya. Ia begitu mencintai anak jalanan, mungkin tak sederas kerja keras aktivis anak maupun wirausahawan sosial. Ia mencintai dengan sederhana, seperti sepotong sajak Sapardi. Suatu kali saya lihat di telepon genggamnya potret seorang anak jalanan yang ia temui saat mobil tuanya berhenti di lampu merah. Keesokan harinya ia memberi sebuah buku pada anak itu. Ia tak memberi uang, ia memberi jendela dunia.

Tapi anak malang yang beruntung itu punya banyak teman yang tak seberuntung dirinya. Terlalu banyak nestapa dan duka di nuansa lampu merah dan hijau yang berkelip memerintah. Orang-orang melarat mencari sesuap nasi, entah untuk dia atau orang lain yang sedang santai merokok menanti pundi hasil kerja keras orang lain. Saya bersyukur sekaligus iba sekaligus skeptis saat melihat muka anak jalanan yang mengemis.

Saya bersyukur karena nasib menentukan saya harus “melalui jalan yang diapit bunga-bunga indah,” seperti pada halaman pertama La Familia de Pascual Duarte, karangan Camilo Jose Cela. Saya tak harus membanting tulang sejak dini dan menguras keringat dari kecil, terlebih di rimba jalanan kota yang sedang berkembang. Saya beruntung hidup dalam kenyamanan yang memulaskan, tapi saya tahu terlalu pulas pun tak baik.

Saya iba pada saat melihat wajah mereka yang kelu, yang lesu, yang abu. Yang sejak bocah telah menerima kejam dunia yang terlalu memilukan untuk ditanggung tubuh mereka yang rapuh. Tubuh kecil yang punya jiwa murni tapi harus dihadapkan pada kenyataan yang brutal dan absurd bahkan sejak pikiran mereka belum tahu apa itu brutal dan apa itu absurd.

Saya skeptis karena saya jelas termakan berita-berita tentang mereka. Tentang mereka sebagai suruhan orang lain, tentang mereka yang mungkin sebenarnya tak perlu mengemis di jalan. Saya jadi malas untuk memberi sekoin rupiah bila membayangkan itu. Takut receh saya yang tak ada arti itu jatuh di kantung orang lain yang lebih tak berarti lagi. Selain alasan bahwa saya jarang memberi receh karena enggan mengajari mereka senang pada mengemis.

Membayangkan mereka, anak jalanan yang mengemis pun mengamen, saya jadi teringat sosok Pascual Duarte dalam buku yang sempat saya sebut sebelumnya, sebuah buku karangan novelis Spanyol yang sempat meraih nobel sastra, Cela. Pascual diceritakan sebagai sosok yang dari kecil hingga matinya selalu ditimpa musibah, masalah, kesialan, nestapa, dan duka. Ia adalah bagian dari golongan yang mesti “menggeliat di bawah sengatan terik matahari.”

Ia orang yang miskin sejak kecil di suatu desa yang sepi di Spanyol. Tapi tak hanya miskin, nasibnya pun tak pernah dinaungi keberuntungan. Ia punya ayah dan ibu yang selalu bertengkar dan tak pernah mencintainya. Adik perempuannya, Rosario, meski sangat menyayanginya namun hidupnya pun berantakan. Ia sempat dua kali punya anak dari istrinya, Lola, tapi keduanya mati. Satu keguguran, satu mati karena angin jahat saat belum genap setahun. Istrinya pun juga mati pada kemudian di pelukannya.

Rangkaian nasib sial itu menyatu dalam kehidupan Pascual menjadi identitas hidupnya yang menyedihkan. Rangkaian itu pun menjadikan jiwanya terganggu sehingga ia tampil jadi sosok yang tak segan membunuh apapun yang ingin dibunuhnya, termasuk anjing kesayangannya dan kuda yang menjatuhkan istrinya yang sedang mengandung. Ia juga membunuh beberapa orang lain, dan terakhir diceritakan ia membunuh ibu yang melahirkannya ke dunia yang kejam. Pascual lalu meringkuk dalam penjara hingga dihukum mati dan menuliskan kisah hidupnya disana. Kisah yang lantas dijadikan buku oleh Cela.

Cerita Pascual dan wajah lelah anak perempuan di sudut lampu merah tadi seakan menyatu dalam surat yang diberikan sang empunya kehdidupan kepada saya. Keduanya datang dalam waktu yang bersamaan. Seakan ingin memberi tahu saya sesuatu. Entah apa. Mungkin segalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s