Walkman

Kata lahir dari kata. Yang menyulut jari menari adalah puisi. Saya sedang tak jelas mau apa. Diam duduk memandangi layar silau berwarna-warni penuh tanda yang tak asing terpelajari dari kecil. Ingin menulisi sesuatu diatasnya, entah apa. Lalu tuhan melarikan jari ke tikus kecil yang mencari-cari inspirasi, tertemulah puisi seorang asing yang tak asing betul. Tumpahlah tulisan ini yang dijatuhkan dari meja kantin siang tadi.

Saya bercakap dengan dua atau tiga senior tentang dunia akademis yang mengharuskan kami mengisi berlembar-lembar kertas dengan tinta berisi kata dan fakta. Itu sebuah kutukan dan kesempatan. Kutukan yang jelas menaruh sejumput beban di pundak dan kepala demi upeti untuk perpustakaan. Tapi itu juga kesempatan bagi saya untuk menghasilkan sesuatu dari dunia yang tak begitu saya suka. Sedikit kenangan dari langkah yang keliru untuk hari tua.

Saya lalu cerita ingin menulis tentang backpacking. Lebih tepatnya tentang mereka yang sejatinya mampu bertualang dengan koper dan tidur dalam kemewahan hotel yang layak, tapi memilih jalan menjadi seorang yang rela susah dan berkelana ala backpacker yang serba-irit. Lalu seorang lawan bicara entah usul atau sekedar cerita tentang fenomena backpacker pada tahun 1990-an.

Katanya dekade itu backpacking merupakan kebudayaan bagi laki-laki muda. Seorang menimpali sekaligus mengonfirmasi dengan sebuah ibarat: layaknya nongkrong di sevel bagi remaja masa kini. Backpacking yang dimaksud pun bukan backpacking ala milenium baru seperti saat ini. Budaya backpacking kala itu adalah petualangan yang benar-benar petualangan. Tak sekedar budaya massa seperti kini.

Lalu ia menambahkan, selain backpacking, Michael Jackson adalah penanda kebudayaan itu. Sambil berkelana melirik pantai atau mendaki gunung, atau sekedar duduk di lantai kereta, suara raja pop senantiasa menemani perjalanan ala orang susah itu. Backpacking menjadi sebuah pencarian makna yang diiringi melodi pop MJ. Darimana lagu Michael melantun menuju telinga pada jaman itu? Tentu bukan mp3 player, ipod, atau hp yang bisa bernyanyi. Ya, walkman.

Saya baru ngeh siang tadi bahwa kata walkman mengandung dua kata yang erat kaitan dengan perjalanan. Seakan alat tersebut, yang kini sudah tak laku, diciptakan khusus bagi penikmat perjalanan yang butuh suara untuk mengisi telinga sambil mata melihat keindahan alam dan hati merenungi keagungan tuhan. Ia dikreasikan bagi sebuah gaya hidup yang memberontak dari rutinitas dan mencari makna di tumpukan kabut entah dimana.

Tapi kini walkman makin menjarang. Mungkin karena waktu sudah menyuruh umat agar tak lagi berjalan banyak, tak perlu mencari petualangan, tak butuh lagi melihat surga dunia di tempat yang jauh dari rumah. Mungkin karena waktu telah menyediakan televisi dan internet yang setia menjajakan keindahan dalam versi lain, yang fantasi, yang tak nyata, yang mematikan naluri untuk mengelana. Umat manusia lalu puas diam depan televisi dan layar tempat saya mengetik ini.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s