Gelap

Baru saja seisi rumah gelap gulita. Listrik mati. Setiap orang mencari cahaya, baik lilin maupun senter. Saya di lantai atas pun turun pelan ke bawah, meraba tembok dan lantai, mencari kamar untuk berusaha menemui senter di atas meja belajar. Nyala menyeruak dalam gelap. Selintas sinar cukup memecah kelam total. Setelah tenang karena ada cahaya saya rebahan di atas kasur di kamar nan gelap sambil tangan memegangi senter, berjaga-jaga.

Saya lalu berpikir ke masa lalu. Ke masa dimana dulu waktu kecil seringkali rumah juga mati lampu. Lupa apakah waktu masih anak-anak menikmati mati listrik sebagai ketakutan atau kesenangan karena dapat bermain lilin. Saya lupa perasaan waktu itu. Saya kecil mungkin takut gelap, tapi tahu ada lilin yang bisa jadi sumber suka di dalam pekat. Bersama adik dan kakak menyalakan dan meniup lilin dengan senyum mengembang. Saat listrik pulih, kegirangan makin meledak.

Kini saya sudah dalam perjalanan menuju masa depan yang jelas lebih gelap dari gelap malam ini. Saya tak lagi girang saat menyalakan lilin atau meniupnya saat listrik menyala. Lagipula lilin sudah kalah dengan teknologi bernama senter atau lampu emergensi. Saya mungkin tidak lagi takut akan gelap seperti saat masih kecil, tapi juga tak lagi senang menikmati cahaya kecil di tengah gelap seisi ruang.

Sambil tetap rebah, momen saat melakukan perjalanan ke Baduy dan saat berada di kampung nenek moyang di Toraja pun terngiang. Di Baduy, saya ingat gelap adalah sebuah kesederhanaan yang mewah di tengah kampung antah berantah yang tak memakai lampu pada malam hari. Pada malam di Baduy saya belajar bahwa lampu, televisi, dan komputer hanya fantasi orang lain yang kita anggap sebagai kesenangan nan menghibur. Sunyi alam sejatinya lebih berharga.

Beberapa hari sebelumnya di Toraja, di malam gelap tanpa lampu pula, di tengah pegunungan saya dan beberapa keluarga menuju tongkonan nenek dengan melewati sawah dan tanah licin sehabis hujan dengan hanya ditemani dua senter dan sebatang obor. Kaki betul-betul becek saat sampai di rumah tante di seberang tongkonan. Malam itu dan malam selama disitu pun kami hidup tanpa lampu, tanpa listrik. Saya belajar bahwa cahaya bulan sesungguhnya cukup. Tapi kita manusia selalu serakah.

Tak lama lamunan tersebut pecah karena listrik rumah menyala lagi. Gelap berganti cahaya lampu hasil karya fantasi Thomas Edison. Saya mencari lampu emergensi yang saya hidupkan, lalu mematikannya. Menuju lilin yang saya nyalakan, lalu meniup hingga asap melayang. Saya lalu menyalakan laptop dan menulis omong kosong ini. Saya sadar baru kehilangan sesuatu. Entah apa. Mungkin gelap yang menenangkan beberapa saat lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s