Mall

Mall adalah tempat riuh dimana banyak orang kehilangan uang dan dirinya sendiri. Mall adalah tempat kota berpindah dari kebebasan udara alam menuju dinginnya pendingin ruangan yang memabukkan sehingga orang lupa akan kenyataan. Sebagai sebuah kebudayaan mall lahir dari gairah manusia untuk mengkonsumsi. Selain itu ia tumbuh dari kebutuhan manusia untuk memperjuangkan posisi dirinya dalam masyarakat.

Mall pun jadi sarana untuk mempromosikan tentang cara hidup yang dianggap beradab. Lewat etalase dan dinding kaca tampillah peragaan tentang gaya hidup kelas tertentu yang dicap lebih superior. Setiap orang yang melihatnya harus belajar dan meniru sepersis mungkin agar dapat diklafikasikan sebagai keren, gaul, kaya, hebat, dan kata-kata lain yang dikonstruksi kelas tertentu. Itulah salah satu cara ekonomi tumbuh, meski nurani kadang justru mati.

Sebelum ada mall mungkin masyarakat lebih sering berkumpul di taman kota, warung kopi, atau ruang publik lain yang lebih mendekatkan daripada menajuhkan. Di mall setiap orang berdiri sendiri, berjalan sendiri, dan mati oleh hasrat sendiri. Tak jarang sikut menyikut justru terjadi, perang tak terelakkan, dan yang menang adalah yang paling sering menjadi tolol. Entah siapa yang diuntungkan dengan fenomena yang tak integratif seperti itu.

Orang yang sudah tua datang ke mall menyaksikan keajaiban modern dan terpukau, lalu terhipnotis. Yang lebih muda datang untuk menghamburkan hasil keringatnya dan menampilkan diri sebagai bagian dari kelas tertentu yang diharapkannya. Remaja hadir untuk menghabiskan uang orang tuanya dalam rupa-rupa gaya untuk diakui dalam pergaulan. Anak kecil melihat mall sebagai tempat merengek dan belajar untuk menjadi rakus.

Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa mall adalah sebuah pabrik tempat ketidakinginan diubah jadi keinginan, dan keinginan diubah jadi kebutuhan. Saya menambahkan bahwa selanjutnya pabrik itu memproses kebutuhan menjadi keserakahan. Selain itu melalui mall, ungkapan cogito ergo sum yang terkenal milik Descartes digubah sedikit menjadi: aku belanja maka aku ada. Tapi kita harus tahu bahwa setelah ada adalah tiada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s