Lombok

Pagi muncul dengan misterinya. Demikan pagi itu, 16 Agustus 2011. Saat itu pagi masih buta, gelap, kelam. Dingin laut masih menusuki seluruh badan. Jaket tipis tak kuat menahan. Apalagi celana pendek rombeng selutut. Kurang lebih lima jam berada di laut, mulai tengah malam hingga fajar tiba. Tidur di dek seadanya dengan sandal kiri jadi bantal. Lumayan mengganjal kantuk yang datang. Lumayan buat pemimpi yang mabuk.

Tak lama kemudian langit mencerah. Laut sudah lewat, kini daratan mulai terlihat di depan kaca bus. Langit masih ngantuk sementara matahari masih malu-malu. Jalan kecil dikeloki menit demi menit. Hamparan sawah kanan kiri menjadi sekilas pemandangan di tengah pikiran tentang suatu ketidakpastian yang direncanakan. Mungkin sekitar setengah jam dari Pelabuhan Lembar hingga Terminal Mandalika Mataram. Kaki saya menjejak Lombok!

Bak orang baru di tengah tanah asing, saya linglung, bingung, hampir menyalahkan diri sendiri karena memilih hobi semacam ini dengan gaya semacam itu. Tapi menjadi asing selalu jadi candu bagi jiwa tanpa nama ini. Sendiri di bawah langit yang belum dikenal adalah selalu memabukkan. Dan ketidakpastian akan sebuah hari adalah pemberontak di tengah rutinitas buatan orang lain. Saya menyukai semuanya itu.

Jadi saya turun dari bus itu, membiarkannya pergi menuju titik akhir bernama Labuan Bajo. Saya juga ingin kesana suatu waktu nanti. Menuju tanah Flores yang katanya cantik dan harum bagai namanya. Tapi saya sedang tak disana, saya sedang di Lombok, di tanah Sasak. Saya duduk sejenak di ruang tunggu terminal yang masih sepi meski tukang ojek berkali-kali merayu mencari penumpang. Saya bergeming mencoba merekam dan menikmati keasingan.

Setelah cukup puas diam duduk saya lalu berdiri dan berjalan keluar terminal, mencoba menjauh dari tukang ojek yang entah berapa banyak jumlahnya. Saya tahu tukang ojek tersebut menawarkan harga yang menjulang, jadi saya putuskan keluar terminal dan mencari tukang ojek dengan harga yang lebih manusiawi. Tapi jalanan Mataram masih sepi pagi itu. Saya duduk lagi di dekat warung seorang ibu tua yang sedang bersiap membuka usahanya.

Membuka percakapan saya menanyakan langsung mengenai cara menuju Pelabuhan Bangsal, tempat awal untuk menuju Gili Trawangan yang memang saya tuju. Lombok memang punya banyak Gili, alias pulau kecil, dengan beragam pantai pasir putih yang indah dan memesona. Tanah Sasak ini juga punya Rinjani yang memikat dan menggoda tiap penjelajah menggagahinya. Tapi untuk kali ini saya ingin ke Gili Trawangan. Mungkin karena tersentil cerita dua orang.

Orang pertama adalah kakak saya yang belum lama mengunjungi Gili Trawangan dalam rangka pekerjaannya. Ia mengatakan dengan nada menantang bahwa pulau kecil itu merupakan tempat favorit bagi pecinta reggae yang santai seperti saya. Ia menyebut bahwa suasana Gili Trawangan pastilah saya suka. Mendengarnya saya seperti tersengat dan tahu harus membuktikan sendiri. Saya ingin merasakan langsung dan tak hanya mendengar cerita tentangnya.

Orang kedua adalah senior di kampus yang satu atau dua tahun sebelumnya mengunjungi Gili Trawangan. Dengan mulut mengucap antusias ia menyebut bahwa pulau tersebut adalah surga. Mungkin terkesan hiperbol, tapi saya tahu mulutnya mengucapkan sesuatu yang bombastis, suatu tempat yang bak khayangan dan bukan kenyataan. Dua kali saya tersengat oleh cerita-cerita tentang Gili Trawangan. Tak ada alasan untuk tak kesana selagi di Lombok.

Setelah berbincang dan bertanya jawab dengan ibu pemilik warung tadi, saya lalu bertemu tukang ojek yang akan mengantar saya menuju Bangsal dengan harga yang menurut saya wajar untuk sebuah perjalanan naik turun gunung. Kira-kira 45 menit saya telah tiba di Pelabuhan Bangsal. Suasana cukup ramai penuh dengan hiruk pikuk warga lokal dan turis-turis, baik lokal maupun mancanegara. Dari kejauhan saya melihat Gili yang masyhur itu. Hati makin tak sabar.

Sebenarnya tak hanya Gili Trawangan yang ada dekat pelabuhan itu, ada dua gili lain yaitu Gili Meno dan Gili Air. Ketiganya memang terkenal sebagai paket gugusan tiga gili di utara Lombok. Menuju Gili Trawangan saya membeli tiket kapal publik seharga sepuluh ribu perak. Saya menunggu panggilan sembari membereskan tas punggung besar yang setia menemani kemana pun. Akhirnya waktu tiba.

Setelah duduk rapi dan menunggu semua penumpang, kapal mulai bergerak membelah laut menuju Gili Trawangan. Tak lama untuk sampai, hanya sekitar 15 menit. Dari lautan saya sudah menyaksikan betapa indahnya gugusan gili tersebut, terlebih Gili Trawangan yang spesial karena memiliki sunset spot. Dari ketiga gili, Trawangan bisa dibilang yang paling tenar. Dan saya menginjaknya dengan melompat terciprat air laut di tepian pulau kala kapal berhenti.

Sesampainya di Gili Trawangan saya mencari toko yang menjual tolak angin, maklum badan terasa tak enak setelah semalaman dihantam angin malam di Selat Lombok. Selain itu kesempatan buat saya bertanya pada si penjual mengenai penginapan murah ada di pulau. Ia menyebut Penginapan Abdi. Dan disitulah saya menginap untuk satu malam dengan harga yang sejatinya cukup mengernyitkan dahi bagi saya. Tapi saat itu memang sedang musim ramainya turis. Tak apa.

Setelah sejenak berleyeh-leyeh saya lalu keluar untuk disirami matahari Gili Trawangan. Berjalan-jalan mengelilingi pulau, sedikit berenang di dekat pantai, berbincang dengan seorang pemuda lokal yang bermimpi punya mobil sport buatan Itali, duduk-duduk santai sambil memandangi alam dan sedikit potret sana-sini. Gili Trawangan saat itu memang betul sedang ramai, ratusan turis asing sliweran kesana kemari. Seperti sedang berada bukan di Indonesia.

Senang juga memang melihat banyak bule perempuan dengan bikini bersantai di tepian pantai atau sekedar membaca buku. Tapi lama kelamaan bosan setelah sering disuguhi pemandangan serupa selama di Bali. Saya lalu kembali ke kamar, tidur siang sebentar, lalu mandi untuk kemudian keluar menikmat senja di Gili Trawangan. Sekedar info, nama Trawangan katanya dipilih karena di gili ini terdapat terowongan alami yang dalam bahasa Sasak berarti trawangan.

Saya memilih berkeliling pulau dengan sepeda untuk melumat senja. Tujuan akhirnya tentu sunset spot yang menjadi salah satu andalan Gili Trawangan. Dengan ditemani sekaleng coca-cola berharga selangit saya menikmati matahari terbenam di Lombok. Indah rasanya memandangi sunset dengan sudut pandang lain di belahan Indonesia lain yang asing. Saya mensyukuri karunia Tuhan bernama sunset, salah satu karya terbaik Sang Pencipta.

Langit menjingga, lalu menghitam perlahan, matahari telah terbenam sempurna. Malam dimulai di pulau kecil yang meriah ini. Saya memulai malam dengan mengembalikan sepeda yang sewa untuk berkeliling pulau selama kurang lebih 2 jam. Setelah kembali ke penginapan sebentar saya keluar lagi, mencari makan. Menarik, rupanya terdapat semacam spot khusus tempat pedagang makanan menjajakan para wisatawan makan malam. Seperti bazaar kecil di pulau kecil.

Saya lupa makan apa malam itu. Yang jelas cukup mengganjal perut yang seharian hanya makan sekali, maklum irit, maklum ini pulau kecil yang apa-apa serbamahal. Saya makan sambil memperhatikan tingkah bule-bule menikmati makan malam di tempat yang sama. Setelah usai, saya berjalan, lalu tiba di warnet. Membuka facebook, twitter, dan yang terpenting mengisi mata kuliah yang akan saya ambil semester depan.

Saya memutuskan kembali ke kamar, lelah sekali rasanya. Ingin tidur tapi mata belum sanggup memejam. Lalu saya buka novel yang saya bawa, karangan Deepak Chopra berjudul Buddha. Juga mencoba menuliskan sedikit catatan perjalanan, coba mengundang kantuk. Tapi takdir justru mengajak saya keluar menemu malam lagi. Saya membeli cemilan coklat di toko tempat saya membeli tolak angin. Saya kemudian duduk di samping pos penyebrangan, menikmati laut malam.

Sambil mencemil coklat bundar saya meresapi desau angin dan debur ombak. Semua itu ditambahi dengan alunan musik reggae yang berasal dari bar dekat tempat saya duduk. Musik reggae memang pas di gili ini. Saya membayangkan omongan kakak saya beberapa waktu silam. Suasana gili ini memang pas bagi reggae dan mereka yang menyukainya. Setelah cukup lama dan malam makin malam, saya kembali ke kamar. Terbaring dan tertidur.

Pagi lalu datang di Gili Trawangan. Saya terbangun sekitar jam delapan. Menikmati udara, bergegas mandi untuk pergi keluar pulau. Mungkin terasa kurang hanya berada sehari di pulau cantik ini. Saya janji lain waktu akan kembali. Setelah membayar kamar, kaki melangkah menuju tempatnya pertama kali menginjak Gili Trawangan. Saya membeli tiket dan menunggu kapal dengan santai. Menikmati laut dan udara bersih Gili Trawangan untuk terakhir kali.

Pagi itu adalah 17 Agustus. Sambil menunggu kapal saya memperhatikan merah putih berkibar lemas di salah satu kapal kecil. Warnanya lusuh dan gontai tergoyang angin pesisir. Lusuh dan gontainya bendera itu seakan selaras dengan kondisi bangsa ini. Carut marut negara dan masyarakatnya adalah warna warni yang menghias perjalanan mengisi kemerdekaan ini. Di pulau ini pun saya melihat kita terjajah lagi dalam rupa yang lain.

Kapal kemudian siap, saya melompat naik, duduk tenang sambil menikmat lautan yang terlewati. Sampai di pelabuhan Bangsal saya melihat lagi ke arah Gili Trawangan untuk kali terakhir. Kemudian saya berjalan menjauhi pelabuhan kemudian memberhentikan cidomo (delman), lalu naik. Sampai perempatan jalan yang saya lupa namanya turunlah saya, kemudian berganti dengan menaiki ojek menuju Mataram.

Sebenarnya saya hendak mampir dulu ke Senggigi, atau pantai lain dekatnya, tapi kesalahpahaman dengan tukang ojek justru membawa saya lebih cepat ke Mataram. Jalanan yang dilalui memang melewati Senggigi dan pantai lain yang luar biasa indah panoramanya. Paduan gunung dan laut yang indah dengan rute jalan yang naik turun berkelok sungguh nikmat. Sampai saat ini saya menganggap panorama tersebut sebagai gambaran tercantik dari paduan gunung-laut.

Di Mataram saya menemui tante dari Kupang yang kebetulan ada seminar di Lombok ini. Saya menemuinya di Hotel Lombok Raya, menginap disana sehari, makan enak sehari tiga kali tak seperti saat di gili, dan merasakan bahwa Tuhan selalu melindungi hambaNya yang berpergian. Nikmat sekali memang berleyeh-leyeh di hotel yang baik setelah menyakiti diri sendiri dengan beririt-irit ria dalam perjalanan.

Keesokan harinya saya bersiap untuk kembali ke Bali, untuk kemudian menuju Jakarta dua hari setelahnya. Sayang sekali hanya menghabiskan tiga hari di Lombok yang begitu indah ini. Saya sadar di setiap perjalanan selalu ada penyesalan karena satu dan lain hal. Karena selalu ada tempat yang terlewat atau karena waktu di satu tempat kadang tak cukup untuk mengeksplor. Tapi memang begitulah perjalanan, setidaknya hal itu yang membuat saya selalu ingin kembali.

Saya menuju Pelabuhan Lembar dengan taksi dari hotel tersebut setelah sempat membeli sedikit oleh-oleh. Sampai di pelabuhan saya membeli tiket, naik ke feri, dan mengarungi laut selama 9 jam untuk sampai ke Padang Bai, Bali. Kapal feri sempat diam di lautan selama tiga jam karena gelombang yang buruk saat sudah dekat Bali. Saya kemudian turun dari kapal, meloncat menginjak tanah Bali lagi. Berjalan sendirian di malam dingin di pulau asing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s