Semester Enam

Tiga tahun sudah dikurung dalam universitas. Dibuai indahnya bayang tentang menjadi kelas menengah nan mapan, meski tidur dipotong jadwal kuliah, meski pikir disesaki konsep dan teori asing. Dan rupanya pemalas yang hanya bisa protes dan mengeluh ini masih bertahan di tengah rimba kegundahan seseorang yang dipaksa berbuat apa yang tak diinginkannya. Pemalas tersebut memasuki semester keenam dengan relatif mulus.

Semester enam datang dengan gagahnya seperti siap meninju siapapun yang tak siap memasukinya. Saya adalah salah satu yang merasa telah gagal sejak awal semester ini. Tak ada lagi hasrat yang biasanya muncul hanya di awal semester. Kalau di awal saja tidak lagi bergairah, bagaimana di tengah dan akhir semester? Mungkin habis sudah semua pesona akan keunikan ilmu yang saya anggap nyentrik ini, yang oleh karenanya saya dapat bertahan sejauh ini.

Saya ingat ucapan seorang junior yang lebih senang hidupnya diatur sistem seperti kereta yang berjalan begitu saja mengikuti rel yang telah ada, melakukan apapun sesuai jadwal yang telah diatur. Saat itu saya mencibirnya, menganggap bahwa model kehidupan seperti itu membosankan dan memalukan bagi manusia yang punya pikiran dan kreativitas untuk menentukan hidupnya sendiri. Kini saya sadar ucapan junior itu ada benarnya.

Kini saya tak ingin apa-apa dari menjadi mahasiswa, hanya ingin jadi semacam robot yang bergerak otomatis mengikuti perintah jadwal dan sistem. Tanpa rasa menjalani kehidupan tahap akhir sebagai mahasiswa. Sekedar untuk lulus dan meraih titel, meski berjanji dalam hati titel tersebut tak akandibawa kemanapun, tak akan dibanggakan ke siapapun. Lalu wisuda jika wanita yang paling saya cintai di dunia menginginkannya. Secara pribadi saya tak butuh wisuda.

Setelah lulus saya ingin bebas sebebas-bebasnya. Mencari pekerjaan yang memang saya cintai dan melakukan impian terbesar dalam hidup saya. Saya tak tahu apa bisa, atau justru malah terjebak lagi dalam penjara lain yang siap mengurung, seperti yang seringkali saya takutkan. Tapi saya tak peduli selama manusia masih ditakdirkan untuk pasti mati. Saya tak peduli lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s