Ambon

Baru saja saya melakukan perjalanan ke Ambon yang punya dua makna. Pertama ialah Pulau Ambon yang merupakan pulau di selatan Pulau Seram yang konon merupakan tempat nenek moyang semua orang Maluku. Kedua adalah kota Ambon yang terletak di pulau bernama sama yang merupakan ibukota provinsi Maluku. Ketika saya bicara Ambon, saya sendiri bingung menujukannya untuk Ambon yang mana. Sama sajalah.

Ambon adalah tempat yang memiliki imaji buruk bagi kebanyakan masyarakat. Kerusuhan besar yang pernah melandanya menjadikan Ambon seakan sebagai tempat yang terlalu berbahaya untuk didatangi. Kerusuhan bisa kapan saja terjadi, ia hanya butuh sedikit penyulut. Jadi wajar ketika ibu saya begitu khawatir saat saya pertama kali minta ijin untuk melancong ke Ambon. Tapi perlahan restu didapat dan jadilah saya meluncur mengunjungi tanah Maluku.

Sebenarnya saya juga memikirkan kekhawatiran akan munculnya rusuh sewaktu-waktu. Tapi jika tenggelam oleh ketakutan, saya sadar takkan kemana-mana. Pejalan yang baik harusnya memang pejalan yang berani, atau pejalan yang tolol. Karena kadang berani dan tolol hampir sulit dibedakan. Pertama kali menginjak tanah Ambon, stigma negatif coba saya usir, berharap saya menemukan beragam hal positif dari Ambon. Saya benar, saya keliru.

Saya benar karena rupanya Ambon tak melulu soal konflik berdarah. Ia punya surga berupa bibir pantai pasir putih dan lautan jernih berwarna biru kehijau-hijauan. Belum lagi pemandangan pegunungan dan teluk yang seolah mengusir penat  rutinitas. Ambon pun menyajikan keakraban dari masyarakatnya bagi pendatang. Mereka ramah dan berhati baik meski gaya bertuturnya kasar dan terlalu lantang seperti marah-marah. Khas Indonesia Timur.

Tapi saya juga keliru karena ternyata stigma negatif itu memang terbukti. Ambon yang identik dengan konflik rupanya belum pulih seratus persen. Ia sedang coba berobat namun masih sering terluka akibat sayatan baru. Konflik di Ambon ibarat bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Ketegangan masih terasa dan kecurigaan satu sama lain sejatinya masih ada, meski mungkin tak seperti dulu. Jadilah stabilitas disana belum terwujud maksimal. Semua serba gamang.

Bicara soal konflik di Ambon memang seru. Dua kali saya bertemu dua dosen lulusan UI dan keduanya bicara dengan penuh antusiasme mengenai konflik yang terjadi disana, tentu dengan sudut pandang ilmiah. Keduanya berpendapat bahwa konflik yang terjadi merupakan rancangan beberapa pihak yang mengharapkan Ambon rusuh dan tidak aman sehingga menguntungkan mereka. Entah apa yang mereka cari.

Konflik antarpenganut agama di Ambon memang membuktikan ucapan Marx bahwa agama adalah candu. Agama yang sebenarnya ditujukan agar dunia tak kacau justru menjadi sumber kekacauan, setidaknya begitu jika dilihat dengan cara pandang yang sangat sederhana dan tak panjang akal. Ketaatan masyarakat Ambon pada agamanya ternyata justru menciptakan ironi. Agama yang tak pernah mengajarkan membunuh justru jadi alasan untuk menikam saudara sendiri.

Entah sampai kapan ketegangan di Ambon terasa. Mungkin masih lama, tapi semoga secepatnya. Sayang sekali tempat yang indah bak surga dan penduduknya yang ramah justru menjadi tempat darah menetes deras dan api berkobar-kobar. Setelah hampir dua minggu di Ambon saya lalu pulang kembali ke realitas. Saya meninggalkan negeri surga dan neraka itu di belakang. Catatan ini mungkin sembrono, tapi katanya begitulah memang catatan perjalanan yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s