Natsepa

Di suatu siang yang sungguh terik, angin membawa tubuh menuju pantai Natsepa. Salah satu pantai terbaik di Ambon. Pantai legendaris yang juga terkenal karena rujaknya yang masyhur. Beruntung sekali bisa mencicip salah satu keindahan alam di bumi Nusantara ini. Natsepa memang seindah apa yang disebut orang-orang terdahulu yang pernah menyambangi pasir putih dan laut jernihnya.

Bersama tiga orang teman, saya bermandian di laut yang tenang di tepian pantai Natsepa di siang yang ganas di pulau yang memang mataharinya luar biasa panas. Nikmat sekali dibasahi air laut sambil bercengkrama dengan teman, disisiri angin Maluku yang kabarnya sedang tak terlalu ramah, sambil menikmati panorama pegunungan dan langit biru bersih. Selain itu sambil mengawasi gerak-gerik bule yang sedang membaca buku di tepian pantai setelah berenang sejenak.

Bule itu seorang pria yang tampaknya berumur cukup tua. Ia sendirian, hanya ditemani buku yang dibacanya. Sambil mandi lautan saya melihat bule tersebut. Saya lantas teringat pada diri sendiri. Saya membayangkan diri saya pada bule itu. Seseorang yang sendirian di pinggir pantai membaca buku di bawah rindang pohon sambil memandangi biru lautan. Sesekali meninggalkan buku dan bermain air laut disinari terik mentari pesisir. Seorang penyendiri yang bebas.

Mungkin banyak yang bingung mengapa seseorang mau sendirian menikmati pantai. Kadang saya juga. Tapi entah kenapa saya menyadarinya sebagai sebuah kecintaan yang kadang tak butuh alasan. Pria yang sendiri itu mungkin memang menyukai kesepian, kesunyian, dan kesendirian. Tapi belum tentu ia kesepian dan muram. Mungkin ia hanya pria yang suka bebas dan mencari bebas yang benar-benar bebas dengan menyendiri.

Saya lalu berjalan menuju pantai sambil sesekali tetap melirik ke bule tersebut. Tetap melihat wajah saya pada dirinya. Membayangkan seorang anak muda kesepian yang tiduran di pinggir pantai sepi sambil membaca naskah sastra kuno. Meresapi makna pada waktu, pada laut, pada pasir, pada langit, pada sastra yang terbaca. Tiba di pinggir pantai saya menjatuhkan diri ke pasir, terduduk, lalu menidurkan tubuh, melihat langit telanjang, tertidur terbuai angin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s