Manusia, Sebuah Gumam

Diasapi pagi yang membabi buta, manusia berjalan telanjang menuju yang biasa

Tanpa kaki, tanpa mata, ia berjalan, ia melihat, ia jatuh ditelan kabut

Terlalu dalam hingga tanpa henti teriak tak bernada merangsek keluar lewat kerongkongan yang bisu

Meledaklah semua sampah dan harapan yang tak pernah diberi nama, yang mati sebelum jadi nyata

Manusia itu melangkah lagi tetap gontai, tak pasti, seakan ingin mati dalam pagi yang tak seindah puisi

Di ujung jalan tak disangka hiu menjalari seisi tembok mengelilinginya, disantaplah ia tanpa sisa, tanpa basa basi

Lama merengek dalam perut ikan jahat yang lebih baik dari dirinya, ia dilepeh dengan marah, muka memerah

Di pantai yang tak terurus hanya ada sepotong bangkai paus, baunya tak karuan, tak ada lawan

Manusia duduk merenungi nasib sambil takut digulung ombak yang datang menggertak, sesekali menyentak teriak

Dalam bayangan datanglah burung gagak yang rakus yang mulutnya tak pernah bosan mengunyah, perutnya resah

Secepat kilat paruhnya mematuki setubuh tanpa hasrat tanpa harap yang duduk termangu menunggu maut di tepi laut

Tak berontak si burung gagak makin lama makin meriak, waktu tak henti berdetak, bosanlah gagak

Terbang menuju langit biru dengan awan yang haru memandangi tubuh yang kaku membiru membatu, darah hampir beku

Lalu angin datang tanpa lonceng yang berdentang mengundang riang mereka yang mencari siang tanpa terpanggang

Bayang kabur tanpa sempat mata memejam terusir menuju ufuk barat yang tak sabar menunggu matahari datang

Manusia terhenyak meratapi mimpi yang tampak nyata, yang tampil bagai layar penuh aktor bermuka ganda, bergincu

Lemas matanya sayu, tubuhnya meringkuk menyesap tiap makna yang diberi samudera, terbujur ia menatap mega

Hanya biru tanpa batas, lepas menuju yang paling atas, tak tahu ia langit sedang menunggunya merangkaki tangga udara

Dalam detik kelopaknya tak sanggup lagi, hatinya hancur oleh mabuk, jantungnya tinggal bersisa jentikan yang tak niat

Seluruh tubuh diam hanya tinggal sukma dan jiwa yang sigap keluar dari raga menuju yang maha, yang tak fana

Manusia selesai di dunia menuju liang dengan namanya tertulis pada batu yang pelan akan jadi lumut hijau tanpa bunga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s