Durkheim

Emile Durkheim adalah salah satu dari tiga raksasa sosiologi, yang pundaknya menjadi pijakan bagi mereka yang belajar sosiologi. Sosiolog Prancis ini terkenal dengan konsepsi fakta sosialnya yang menjadi dasar pemikiran dari paradigma yang positivistik. Selain itu kebanyakan mahasiswa sosiologi mengenalnya lewat telaahnya tentang bunuh diri dan pembagian kerja dalam masyarakat. Dalam kajiannya mengenai pembagian kerja ia bicara soal solidaritas.

Durkheim membagi solidaritas berdasar tipe masyarakat. Solidaritas mekanik identik dengan masyarakat rural, tradisional, dimana tidak ada pembagian kerja yang khusus dalam masyarakat. Sementara itu, solidaritas organik erat dengan masyarakat perkotaan, modern, dan industrial, dimana terdapat spesialisasi pekerjaan. Pada tipe pertama, tiap orang mampu mengerjakan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Pada tipe kedua, karena pekerjaan telah terspesialisasi pada tiap-tiap orang, maka masyarakat saling membutuhkan satu sama lain.

Intinya, semakin modern masyarakat akan semakin terspesialisasi pembagian kerjanya dan berdampak pada semakin sedikitnya keahlian yang dimiliki tiap orang dibanding pendahulunya, hal itu dikarenakan tiap orang hanya perlu mengkhususkan pada satu dua keahlian saja, sementara orang lain satu dua keahlian lain, hingga timbullah kerja sama satu sama lain. Pada masyarakat tradisional tiap orang menguasai berbagai keahlian, tak hanya satu atau dua. Saya dengan sembarang melihat antitesis telaah Durkheim ini dalam sepakbola.

Jika Durkheim melihat bahwa modernitas cenderung mengkhususkan pekerjaan atau keahlian seseorang, dalam sepakbola justru terbalik. Sepakbola modern justru memaksa pesepakbola untuk menguasai berbagai kemampuan, berbagai posisi, berbagai gaya sepakbola. Tak seperti sepak bola jaman sebelumnya yang memberikan semacam hak pada pemain bola untuk menentukan dan mengkhususkan dirinya pada satu posisi, atau satu keahlian.

Jaman sekarang seorang bek harus bisa menyerang sama baiknya dengan gelandang atau bahkan striker. Penyerang juga harus memiliki kemampuan bertahan yang baik sama seperti defender dan pemain tengah harus bisa menguasai betul kemampuan mencetak gol khas striker dan tackle keras yang bersih ala defender. Selain itu, setiap pemain pada sepak bola modern diharapkan bisa bermain di berbagai posisi, juga menguasai kedua kaki sama baiknya. Jika memenuhi syarat-syarat diatas, dipastikan si pemain punya nilai jual yang tinggi dan jadi rebutan berbagai tim di era kini.

Saya jadi berusaha membayangkan apa yang dipikirkan Durkheim jika ia tahu bahwa teorinya tak berlaku pada keajaiban global bernama sepak bola. Mungkin ia kesal, mempertahankan teorinya mati-matian meski terkesan memaksa seperti kebanyakan ilmuwan yang berdalih ini dan itu. Atau mungkin ia mengalah, mengakui bahwa realita punya cara berbicaranya, mengakui bahwa teorinya tak bisa diterapkan pada hal paling universal di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s