Kerumunan

Saya ingat pada semester pertama terseok-seok pada mata kuliah pengantar sosiologi. Saya mesti belajar lebih keras untuk ujian akhir. Saat belajar keras itu saya rupanya bisa memahami lebih baik apa yang selama ini tidak saya pahami. Termasuk soal gerakan sosial dan tindakan kolektif, meski saya tak tahu apa beda keduanya. Mempelajari keduanya ada satu konsep yang diam dalam benak hingga kini, kerumunan.

Sepemahaman saya, kerumunan dimaknai sebagai suatu kondisi dimana orang banyak berkumpul di suatu tempat dan melakukan tindakan-tindakan sosial yang dipengaruhi suasana yang bingar itu. Dalam kerumunan, seorang yang relijius bisa saja jadi bajingan. Seorang yang sebenarnya pendiam bisa juga jadi sangat berisik. Di era media sosial seperti saat ini, kerumunan bertransformasi dengan unik.

Dalam ruang maya, perilaku kerumunan pun bisa muncul. Saya melihatnya jelas pada twitter. Terlebih pada saat pertandingan bola, terlebih jika itu big match. Twitter pada saat-saat big match adalah ruang yang bising. Ia begitu ramai, semua berbicara, semua berteriak. Seakan berada dalam stadion dimana pertandingan berlangsung. Sama seperti di stadion, kerumunan orang tak terkendali terbawa suasana. Termasuk mereka yang awam sepakbola.

Hal tersebut lalu menciptakan fenomena unik yang saya beri judul “lahirnya fans karbitan”. Muncul orang-orang yang tiba-tiba mengaku fans klub merah dan membenci klub biru, misalnya. Pujian dan cibiran bersatu jadi menjadi semacam omong kosong besar. Mereka saya yakin tak begitu mencintai klub merah dan tak benar-benar membenci klub biru. Hanya terbawa arus, terbawa euforia, terbawa tuntutan harus ngetwit, terbawa nafsu eksistensi.

Anda yang aktif di media sosial tersebut pasti mengerti yang saya maksud. Ruang sosial berwarna biru langit itu memang jadi mirip langit. Langit dimana angin selalu kencang berhembus, menerbangkan apapun yang rapuh ke kanan atau ke kiri, tak jelas. Saya mengaku kadang larut dalam suasana sebuah big match. Atau kadang terlalu berisik tentang klub idola. Tapi perlahan saya sadar bahwa mencintai terkadang tak perlu dengan kata-kata. Cukup dalam diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s