Hujan

Di siang yang begitu terik, hujan tiba-tiba tumpah dengan deras. Menyegarkan sekali. Saya lalu bergegas menuju teras rumah, mencoba menikmati hujan, atau sekedar merekamnya dalam puisi. Hujan di depan mata itu bagai air di tengah padang gurun. Saya yang selama siang itu kegerahan seakan ingin lompat dan keluar menuju bawah langit untuk sekedar disiram hujan yang deras itu. Tapi saya terlalu banyak berpikir.

Saya lalu melihat sosok seorang anak kecil berkulit sawo matang dengan riang bermandian di bawah hujan yang lebat. Ia begitu riang, senyumnya mengembang tanpa hambatan. Dengan gesit ia berlarian kesana kemari mencoba terbang. Tanpa takut sakit ia sibuk menikmati dirinya sendiri dalam permainan sederhana yang ia ciptakan sendiri. Anak kecil itu lalu menghilang. Ia jadi seorang yang sedang beranjak dewasa. Anak kecil itu saya.

Begitu bebas dan polosnya kita waktu kecil. Tanpa buang waktu, seorang anak langsung merealisasikan keinginan yang tiba-tiba menyembul dari kepalanya. Ia tak banyak pikir, tak banyak pertimbangan. Ia tak seperti manusia yang terikat pada nilai dan norma tentang menjadi dewasa. Manusia yang tak bebas, manusia yang pengecut, yang hidupnya diatur dengan pikiran-pikiran ciptaannya sendiri yang justru menjebaknya.

Namun, anak kecil jaman sekarang pun tak sebebas jaman saya dulu. Orang tua atau orang lain yang mengawasinya kadangkala justru menjadi sipir yang kejam. Dengan alasan kesehatan tubuh, mereka melarang sang anak untuk menumbuhkan jiwa anaknya dalam nyanyi hujan. Hingga aturan itu lambat laun mematikan jiwa bebas si anak. Si anak tanpa disuruh menjadi patuh dan sadar bahwa mandi hujan adalah kesalahan. Anak tak lagi anak.

Di teras itu saya tetap duduk manis meski rasanya ingin sekali mandi hujan. Saya terlalu pengecut untuk itu, terlalu memikirkan apa kata orang nanti jika melihat saya mandi hujan. Kamu seperti anak kecil, mungkin seperti itulah cibiran orang. Padahal, dengan sedikit menyitir Nietzsche, pada setiap orang tersembunyi seorang anak yang selalu ingin bermain. Di hujan siang itu, saya takut membayangkan dunia tanpa anak kecil yang menari bebas di kala hujan.

Advertisements
Posted in ide

One thought on “Hujan

  1. Suatu saat kita kan bercerita tentang perjalanan dimana kita kan terhenti.. Tetap berkarya! Cerita yang menyentuh desir angin yg begitu hebat..
    salam, universe 🌎

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s