Masa Depan

Saya teringat sebuah kicau yang dilontarkan seorang wartawan majalah travelling kelas menengah atas. Kicau itu tentu muncul di ruang maya fenomenal yang mampu mempertemukan racau, galau, bahkan sakaw dalam satu kotak. Kicau yang lalu saya kicaukan kembali berbunyi demikian, “Jengah liat orang-orang yang sok “rock n roll” dan seenaknya hidupnya tapi ternyata peduli (baca: takut) sama masa depan.”

Saya lalu menengok cermin, berkaca. Juga melihat jendela, melihat sekitar. Saya tak tahu apakah saya terpukul oleh kalimat itu. Tapi saya merasa tidak. Atau mungkin saya mengelak, terlalu pengecut untuk mengakui. Tapi dari kalimat itu, yang lebih menusuk saya adalah ketika melihat apa yang ada di balik jendela. Saya lalu iba. Mencoba mengasihani orang lain yang dimaksud kicauan sang wartawan di atas. Atau mungkin iba pada diri sendiri. (Saya masih mengelak pada saat menulis ini.)

Di sekitar saya dapati banyak kehidupan yang seenaknya, tak peduli pada apapun, mencoba bebas, merasa hidup dalam garis yang dibuat tangan sendiri. Tapi lucunya, kehidupan-kehidupan itu dihantui monster paling menakutkan sepanjang masa. Kehidupan bebas itu sebenarnya sedang terpenjara dalam penjara paling jahat. Monster dan penjara itu benama masa depan. Ironis. Saya jadi membayangkan sosok napi yang merasa hidup bebas. Kasihan.

Bagaimana mungkin jadi bebas kalau tangan dan kaki dipasung oleh kungkungan mitos ciptaan sekolah, orang tua, dan masyarakat berbudaya yang dinamakan masa depan tersebut? Bagaimana mungkin menari rock n roll jika pikiran dan hati tertuju pada masa yang tak jelas di depan sana? Bagaimana caranya bebas jika takut pada ketidakbebasan? Bagaimana mungkin cuek tapi peduli pada ketidakpastian? Semuanya omong kosong.

Sang wartawan, dalam kalimatnya, mengaku sedang jengah. Dan karena saya mengicaukan kembali kalimatnya, saya juga ikut-ikutan jadi jengah. Dengan tatapan sinis saya memandangi kepulan asap rokok dari mulut-mulut yang meracau dengan kata-kata setan, yang tangannya memegangi kartu warna-warni, rambutnya tak tertata, tak peduli waktu dan tempat, namun pikirannya terbang dengan gemetar dan takut menuju masa depan. Huh.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s