Messi

Siapa yang tak kenal Lionel Messi kini? Orang yang tak terlalu paham urusan sepak bola pun bisa saja tahu, atau minimal pernah mendengar namanya, meski sayup-sayup. Messi adalah keajaiban sepak bola abad kedua puluh ini. Ia adalah penari yang lincah di panggung hijau. Ia adalah pesulap yang magisnya memabukkan. Tapi, ia juga tetap manusia biasa yang bisa dikritik. Terlebih oleh kritikus banyak omong seperti saya. Yang hanya mengkritik, mengkritik, mengkritik.

Bersama Barcelona ia jadi sosok yang bercahaya dan berbahaya. Ia dan Barcelona sukses bertubi-tubi. Puja-puji hadir dengan rupa yang beragam. Namanya dinyanyikan dengan nada-nada riang dan indah, meski sedikit sumbang selalu terdengar. Ia ditahbiskan jadi raja sepak bola dunia, menyingkirkan nama-nama lain yang tak kalah terang. Tapi bagi saya Messi tetap punya cacat yang harus dikupas, ditelisik, diteriaki, dan dicaci-maki seenaknya.

Bagi saya Messi adalah seorang pengecut yang enggan mencari petualangan. Ia terlanjur nyaman dalam kemewahan bermain di klub yang lengkap seperti Barcelona. Klub yang dari manajemennya, maupun dereten pemain dari belakang hingga depan diisi maestro. Meski ia selalu jadi instrumen terpenting, ia bisa seperti itu karena disokong kenyamanan dan kemewahan yang memabukkan. Ia adalah mesias di tengah keselamatan. Ia enggan mencari.

Ketika orang-orang lain membandingkannya dengan Diego Maradona, dalam hati saya marah. Maradona berbeda jauh sekali dengan Messi. Meski sama-sama pernah memperkuat Barcelona, sama-sama orang Argentina, dan sama-sama memainkan sepak bola berkualitas nomor satu, Maradona tak sepengecut Messi. Ia mencari ketidakpastian, menelisik ketidaknyamanan, merindukan tantangan. Dengan itu ia pergi ke Naples. Ia berhasil. Ia jadi juara di klub semenjana.

Messi sampai saat ini belum pantas disejajarkan dengan El Diego. Ia tampak sudah puas hidup enak di rumah cantik bernama Nou Camp. Ia enggan mencari belantara, ia enggan mencari buaian ombak laut nan ganas. Tapi toh ia masih sangat muda. Segala kemungkinan masih mungkin terjadi. Tentu saya harap ia pindah dari rumah indahnya dan mencari tantangan di luar rumah. Jika sukses, saya baru mengakuinya hebat, dan menyanjungnya dengan kata-kata harum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s