Pop Mie

Di deretan bangku penonton di gymnasium kampus, saat pertandingan basket olimpiade universitas, wangi pop mie tiba-tiba menyeruak di udara, berbaur dengan riuh suara penonton yang bersorak-sorai. Wanginya sangat menggoda, terlalu cantik untuk dilewatkan. Saya jadi membayangkan sebuah fragmen di film kartun yang pernah saya tonton semasa kecil dulu, ketika sang tokoh kartun terseret asap wangi dari suatu makanan favoritnya. Tapi tak hanya itu.

Wangi pop mie di tengah bising malam yang tak pasti itu menerbangkan pikiran saya jauh. Ia menuju lautan tanpa batas di bawah langit yang mulai menggelap, di momen yang tak pasti juga. Di atas kapal feri yang menyebrangkan saya dari Lembar menuju Padang Bai, di atas laut yang petang itu menunjukkan kuasanya. Perut saya yang keroncongan dan tak terisi sejak siang mulai meminta-minta, lirih. Lalu ada pop mie.

Semuanya berawal dari wangi. Wangi pop mie dari penumpang lain menusuk hidung, lalu menyeret saya menuju ke dalam kapal, tempat pop mie itu dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah. Ya, di tengah lautan semua bisa jadi mahal. Sebenarnya saya tak terlalu menyukai pop mie, tapi di tengah lapar dan di tengah gelombang laut yang menunda laju kapal, pop mie adalah jawaban dari Tuhan.

Pop mie itu mungkin tak terlalu mengenyangkan, tapi cukup mengganjal perut. Plus mampu mengusir kebosanan sejenak akibat ketidakpastian di atas kapal. Kapal feri itu mesti menunggu sekitar tiga jam untuk masuk pelabuhan karena gelombang laut sedang tak bersahabat, mesti menunggu kapal lain pergi dari pelabuhan. Pop mie adalah salah satu media pengusir bosan selain karya sastra bikinan Deepak Chopra, Buddha.

Kini wangi pop mie juga tercium hidung saya. Dalam situasi, waktu, dan tempat yang berbeda, wangi pop mie itu punya kekhasan yang membuat saya mengingat kejadian di atas kapal feri di Selat Lombok beberapa bulan lalu. Wangi yang mengundang, yang berasal dari pop mie di tangan orang lain. Wangi yang tak punya suara, tapi sanggup meneriaki orang untuk membelinya. Mungkin karena itu ia dinamai pop mie, mie populer. Ah entahlah, maafkan racauan ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s