Realitas

Pada akhirnya kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Demikianlah kalimat Buddha yang dikutip oleh seorang petualang eksentrik, Gene Rosellini, yang sempat hidup lama dengan pola hidup jaman batu, tapi di akhir ia gagal, lalu bunuh diri. Realitas memang sering datang terlambat, seperti penyesalan. Mungkin karena itu kita sering menyesali kenyataan.

Seperti permen yang cantik, kita sering membungkus realitas dengan impian dan fiksi yang kita karang. Selubung ilusi itu menghindarkan kita dari penglihatan akan kenyataan yang sebenarnya. Kita hidup dalam kenyataan yang semu, kenyataan yang tak nyata. Dengan segala daya pikir kita lalu berfilsafat dan memeluk idealisme. Idealisme itu selalu ideal, dan yang ideal tak pernah nyata.

Terlalu sibuk memelihara idealisme, kita sering lupa menginjak bumi. Menjaga dan menyirami idealisme itu agar tumbuh subur mungkin sebuah hal yang patut diapresiasi. Tapi sebagai seorang pesimis, saya tahu segala yang berawal punya akhir. Idealisme itu toh akan runtuh juga. Kita perlahan sadar kaki kita melayang, perlahan pula mencoba meraih bumi. Dengan payah kita berusaha menyentuh tanah, namun kepala tetap menengok ke langit. Takut kehilangan.

Di ujung cerita kita akan jadi makhluk yang bingung. Karena kita diharuskan berjalan di tanah yang becek dan penuh jebakan dengan pikiran melayang ke angkasa, masih memikirkan yang ideal. Patut diluruskan, “kita” disini adalah padanan bagi mereka yang memegang idealisme yang berbeda, bahkan bertolak belakang dengan realitas yang murni. Kasihan kita.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s