Tentang Malam

“Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam”. Demikian sepenggal bait sajak Chairil Anwar berjudul Prajurit Jaga Malam. Potongan itu saya lihat pertama kali di salah satu buku di lemari buku ayah saya. Buku itu tak selesai saya baca, tapi isinya sepertinya membahas puisi-puisi Chairil lewat telaah ilmiah. Penulis bukunya sendiri seorang lulusan Psikologi UI. Tapi itu tak penting. Yang penting, kalimat sang penyair itu terngiang di kepala saya malam ini.

Saya sedang di bawah langit malam. Entah untuk alasan apa. Sepertinya perut butuh diisi dengan jajanan pinggir jalan. Tapi sepertinya ada alasan yang lebih dari itu. Sepertinya saya rindu menemu malam. Melihat bulan dan bintang, melihat langit yang kelam, melihat apapun yang ada di kegelapan, atau di temaram lampu kota. Saya percaya ada bagian dari manusia yang hanya bisa terisi ketika ia menjumpai malam. Tak melulu siang dan pagi.

Karena mungkin malam menyediakan apa yang tak ada di pagi dan siang. Sebuah ketenangan yang tak diganggu jadwal kerja, jalanan yang tak terlalu padat, kemeriahan yang hanya ada pada gelap, atau hitam itu sendiri yang tak menyilaukan seperti matahari. Semua itu menjadikan malam sering dirindukan, utamanya bagi mereka yang jarang menemuinya. Dan, di malam itu saya habiskan sepotong malam di tenda warung nasi goreng pinggir jalan.

Perenungan saya rupanya tak berhenti di atas piring nasi goreng yang tak bersisa. Di perjalanan kembali ke rumah, saya mengingat hal lain tentang malam. Pikiran saya terbang ke pantai Kuta di Bali nan jegeg. Saat itu malam dingin seperti biasa di pulau Dewata. Saya menghabiskan malam  mengelilingi sedikit bagian Bali dengan vespa bersama teman saya. Di tengah jalan kami berdua kebelet kencing. Saat itu vespa merapat memarkir dirinya di jalan kawasan pantai Kuta.

Kami lalu memasuki kawasan pantai, menuju pagar pembatas dan berdiri menghadap ke arah jalan yang penuh tawa tiwi turis asing. Kami buang air seni yang sedari tadi ingin keluar. Setelah usai, kami berjalan ke arah lautan, lalu duduk di halus pasir. Kami memandangi lautan malam itu, memandangi orang-orang yang ada di pantai, lalu tidur beralas pasir, menatap langit malam.

Sepertinya cukup lama kami rebah di atas pasir seperti itu. Menikmati wangi malam yang dibawa angin pantai, meresapi warna langit yang mengatapi kami. Kami lalu kembali menuju vespa, melanjutkan perjalanan malam itu, dan berakhir di penjual nasi jinggo di Pasar Tuban. Entah mengapa saya mengingat malam itu. Random saja hadir seperti halnya pikiran-pikiran lain. Mungkin ia ingin mengingatkan bahwa setiap malam itu unik dan otentik, seperti malam itu, atau malam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s